PATRIOT

RIAN AINUR ROFIQ

201210360311037

PATRIOT

 

  1. A.   KELUARGA LOE DAN AUDREY KECIL

Budi Loekito (Loe Seng Hoe) dlahirkan di Tulungagung, Jawa Timur, pada 24 Februari 1954. Sebagai anak ke-enam dari delapan bersaudara. Engkongnya Loe Sek Tic, adalah seorang imigran dari Xiamen profinsi Fujien RRC, yang datang ke Indonesia pada dekade ke-dua abad ke-20 untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Audrey kecil tidak pernah bermimpi jadi putri raja. Tidak lama kemudian engkongnya yang tercinta meninggal. Ini sangat mengejutkan semua orang karena ia tidak pernah sakit-sakitan. Beberapa bulan sebelum kepergiannya nenek dari Audrey ditabrak sepeda motor saat bersepeda ke alun-alun. Kebiasaan ini telah dilakukannya selama bertahun-tahun tanpa insiden sedikitpun. Dan setelah beberapa bulan dirawat dirumah sakit emak (nenek) terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma, saat dia sadar dari komanya ia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya telah meninggal dan ia sendiri divonis lumpuh seumur hidup.

Bagaimana mungkin ia bisa kehilangan dua orang yang ia cintai dalam waktu yang begitu singkat? Ia harus merelakan engkongnya pada alam maut dan emaknya pada suatu penyakit menahun yang telah merenggut seluruh kepribadiannya. Saat itulah Audrey kecil terobsesi menemukan makna hidupnya. “Jika hidup ini hanya sementara, maka harus ada makna, tujuan, arti, dan gunanya. Aku tidak mau mati dalam penyesalan”.

Dan pada suatu hari yang cerah saat usianya 5 tahun ia masih ingat kejadian pagi itu saat ia diantar oleh ayahnya ia  melihat dari kaca jendela mobil, seorang anak laki-laki seusianya sedang mendorong gerobak sampah di jalan. Kemudian ia bertanya kepada ayahnya “mungkinkah anak laki-laki tersebut sekolah?”  “Tidak ada biaya untuk sekolah dan hampir tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mereka tetapi hanya negara yang bisa melakukan itu,” begitulah jawaban dari sang ayah.

Sejak hari itu Audrey akan masuk ke pemerintahan dan membantu rekan-rekan senegaranya. Sayangnya, harapan Audrey sangat berbeda dengan harapan ayahnya yang berharap Audrey mampu bersekolah diluar negeri. Banyak orang yang mengamati kehidupan dan prestasinya, Audrey tidak menyangka bahwa ayahnyalah yang sangat berperan dalam menfasilitasi  pendidikannya. Ayah Audrey tanpaknya pendiam, giat bekerja dan tak banyak berambisi dan lebih  ke sifat patriotisme. Dan sifat patriotisme itulah yang sebenarnya ia warisi dari ayahnya. Audrey kecil masih sering berfikir sendiri alangkah indahnya jika orang-orang seperti ayahnya mampu berpatisipasi penuh dalam usaha pembangunan bangsa.

 

  1. B.   ZAMRUD KHATULISTIWA

Hari pertama masuk SD sangat berkesan. Ia masih ingat betapa bangga hatinya ia masuk kedalam kelas bersama 40 anak lainnya. Ruang kelas tersebut berbentuk seperti biasa dan terdapat garuda pancasila di atas papan tulis di apit oleh potret Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Tri Sutrisno. Persis di sebelah papan tulis Bendera Merah Putih.

Audrey berusaha untuk belajar segiat mungkin, pelajaran yang paling disukainya Bahasa Indonesia dan PPKN karena keduanya mengajarkan banyak hal tentang bangsa dan negara.

“Negara Indonesia disebut juga Zabrut Khatulistiwa. Sejak dulu Indonesia sudah diincar oleh bangsa-bangsa penjajah karena hasil buminya banyak. Dan setelah merdeka sudah menjadi milik rakyat. Dan Indonesia dapat membangun negara-negaranya secara maksimal di tangan orang-orang seperti Audrey. Karena itulah mereka harus giat belajar agar bangsa indonesia tidak dijajah lagi”.

Audrey sangat ingin menjadi anak pintar yang suatu hari bisa berguna bagi negaranya. Setelah ia belajar dengan amat giat ia berasumsi bahwa jadi anak pintar itu susah, demikian gumamnya dalam hati. Selalu bosan dikelas, selalu ingin lebih dari yang disediakan disekolah. Selalu dihardik guru-guru karena bertanya diluar konsep pelajaran. Selalu sendiri karena tidak “nyambung” dengan kebanyakan teman sebayanya. Mengapa aku dilahirkan pintar? Tapi jika aku tidak pintar, aku tidak bisa membantu mereka. Mereka disini adalah anak-anak jalanan, pengamen, dan anak-anak putus sekolah lainnya.

Yang harus selalu kita sadari adalah bahwa kemerdekaan kita tidak boleh diterlantarkan jangan sampai kita memiliki mentalitas “sudah merdeka ya sudah”. Sampai kini masih banyak penjajah terselubung yang tengah menguntit kita : perpecahan negara, kebodohan, dan sikap mudah diprofokasi. Hal ini memiliki potensi untuk melumpuhkan dan menghancurkan kita dari dalam. Sehingga “Indonesia Raya” akhirnya hanya menjadi suatu fartamorgana suatu hal yang jauh disana.

Sadarlah bahwa nasib negara kita ada ditangan kita masing-masing. Indonesia memiliki banyak potensi untuk menjadi super power. Tanah kita luas dan alam kita kaya tinggal kita sendiri yang harus peduli akan nasib tanah air kita sendiri.Beranikah kita mementingkan kepentingan negara diatas kepentingan suku dan golongan? Beranikah kita untuk benar-benar mencintai Indonesia bukan hanya di mulut tetapi juga didalam hati dan segala prilaku kita? Jika iya maka besar harapan kita untuk menjadi negara yang maju dan jaya. Jika iya maka pantaslah kita untuk menanti masa depan yang cerah.

 

  1. C.   TIDAK PUNYA NEGARA

Hari itu dimulai dengan pagi dan bersemangat karena ia akan menemani orang tuanya ikut pemilihan umum. Ada tiga partai yang boleh dipilih: Golkar, PDI, dan PPP. Saat pemilihan selesai dalam perjalanan pulang kerumah Audrey  tak henti-hentinya menginterograsi orang tuanya.

“Ma, tadi mama pilih partai apa?”

“Mama kan udah bilang daritadi pilihan seseorang itu rahasia”

“Aku gak akan bilang ke siapa-siapa, janji deh”

“papa tadi pilih golkar” kata ayahnya yang tiba-tiba menyela.

“Golkar partainya presiden Soeharto? Kenapa?”

“Papa pilih presiden Soeharto karena dia itu paling melindungi orang-orang Cina seperti kita. Walaupun kamu lahir dan besar di Indonesia nenek moyangmu semua berasal dari Cina. Kita ini sebetulnya tidak punya negara

“apa yang diajarkan disekolahanmu tidak benar. Nanti kalau kamu sudah besar papa akan kirim kamu keluar negeri. Kamu akan jauh lebih dihargai disana”.

Negaranya sama sekali tidak ambil pusing apakah ia hidup atau mati, pintar atau bodoh. Kenyataannya ia hanya sebutir pasir ditengah hamparan lautan manusia dibumi nusantara tak berdaya dan tak bermakna. Untuk pertama kali Audrey benar-benar takut akan masa depannya. Ia takut bahwa semua ilmu yang ditimbanya tidak akan pernah digunakan untuk mensejahterakan bangsanya, seperti yang diinginkannya sejak dulu.

Sampai saat ini Audrey takut berbicara dengan orang lain tentang cita-citanya. Dia todak mau ditertawakan, dimaki atau dikuliahi bahwa ia “tidak benar-benar mempunyai negara”. “kamu itu bukan orang Indonesia asli” begitu banyak orang menasehatinya. Sebaiknya kamu mencari cita-cita lain saja.

Dan yang paling menyakiti hati audrey adalah bahwa setiap orang yang memberi nasehat seperti itu selalu merasa telah “berjasa” mendidik dirinya-seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Lebih baik aku tidak cerita pada siapapun. Toh, tidak pernah ada yang mengerti. Semua isi hati dan impianku, ku simpan saja sendiri. Lebih baik aku berteman dengan buku-bukuku. Mereka tidak pernah mengata-ngataiku atau menertawakanku. bukankah kata guru-guru disekolahku bahwa buku adalah jendela dunia?

Demikianlah Audrey memutuskan untuk menjadikan buku-bukunya teman terdekatnya. Hanya mereka yang mengetahui impiannya , suka dukanya serta isi relung hati dan jiwanya. Sebab saat ia belajar ia merasa kuat tangguh dan berani. Tak ada hal yang tidak mungkin diraihnya, tidak ada masalah yang terlalu sulit untuknya. Sementara didunia nyata dia hanya seorang “anak kecil” yang naif. Seorang minoritas yang tak berdaya, kecil, dan lemah.

 

  1. D.    PERUBAHAN BESAR DALAM HIDUP

Semua itu berubah saat usianya beranjak sepuluh tahun. Saat itu di pertengahan Mei 1998 Indonesia sedang dilanda kekacauan politik dan sosial.

Untuk pertama kalinya Audrey melihat ayahnya takut. Ayah dan Ibunya sedang sibuk sendiri dikelilingi oleh tumpukan uang dan surat-surat yang bertebaran. Percakapan mereka terbata-bata.

“kita harus siapkan US dolar dan Rupiah”

“mau lari kemana?”

“ ke Bali saja lebih aman, takutnya kalau jalan ke bandara dihadang tentara”

“surat-surat?”

“ya. Ada kartu keluarga, akta nikah, dan akta lahir.”

“jangan lupa surat bukti kewarganegaraan”

“nanti ada biara di Bali semua sudah diatur. Sekarang tinggal jelaskan ke Audrey”

Orang tuanyapun bersiap-siap membohongi Audrey.

“Drey, kita akan berlibur ke Bali naik mobil. Nanti papa dan supir Oni yang gantian nyopir”

Apa mereka pikir dirinya bodoh? “aku tidak mau pergi, aku akan tinggal disini”.

Dan ayahnya pun menjawab dengan berang dan akhirnya Audrey pun menurut.

Mereka pulang dari Bali dua minggu kemudian. Tanpa ada celah sedikitpun walupun Budi Loekito telah menginstruksikan supir Oni untuk menerjang siapapun yang berani menghadang mereka. Tetapi syukurlah hal itu tidak terjadi.

Kerusuhan pada tahun 1998 yang lantas diikuti dengan runtuhnya orde baru praktis mengakhiri segala pikiran masa kecil, dan saat itu Audrey mulai belajar ekstra keras dengan harapan dapat berguna bagi bangsa dan negara.

Belajar dan hanya belajar yang ada dibenak Audrey. Lapar dan dahaga akan ilmu pengetahuan sudah menjadi bagian dari masa kecilnya. Sementara diluar dirinya, berbagai kekerasan di masyarakat semakin memperkuat ketidakberdayaan dirinya. Untuk melawan rasa ketidakberdayaan itu ia semakin meningkatkan semangat untuk belajar dan terus menerus menggali berbagai pengetahuan dari buku-buku.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa orang-orang yang ketakutan biasanya akan terobsesi terhadap sesuatu. Walaupun saat itu tidak disadarinya, tetapi jika dilihat kebelakang pada masa-masa inilah dia mulai terobsesi untuk belajar. Belajar adalah obat penenangnya, harapan satu-satunya bahwa suatu hari ia dapat melakukan suatu yang berguna. Ayahnya telah mengizinkan untuk membeli semua buku yang diinginkan melalui internet., dan fakta bahwa buku-buku tersebut semuanya ditulis dalam bahasa inggris-indonesia. “kalau aku bisa menghafalkan seluruh isi kamus ini, aku bisa masuk kedalam universitas luar negeri.

Ditengah seuruh waktunya yang dia curahkan untuk belajar dan membaca buku, Audrey masih bisa mengatur waktu luang. Pada saat seperti itulah dia bisa bersantai. Salah satu aktifitas di kala luang adalah mendengarkan musik klasik.

 

  1. E.    MEMECAHKAN REKOR

Essay berjudul “Les Grands Congquereurs (idolaku)” disusun saaat Audrey berumur 11 tahun dan duduk di kelas 1 SMP. Berisikan tentang kisah penakluk besar dalam sejarah Eropa, yaitu Napoleon Bonaporte (1769-1821) dan Duke of Wellington (1769-1852).

Tentang Napoleon Bonaporte, tokoh besar dari Prancis ini, Audrey menyusun dua bagian esai. Satu bagian hasil menulis sendiri dengan tulisan tangan , satu bagian lainnya berupa print out perjalanan hidup Napoleon bersumber dari Grolier Electronic Publishing tahun 1993.

Disamping esai tentang tokoh idolanya yang adalah pangima peperangan, Audrey juga menulis esai tentang untuk tugsa mata pelajaran sosiologi. Ia menyampaikan pandangan kritis tentang makna kemerdekaan.

Esai ini memberi gambaran pemikiran Audrey semasa duduk di bangku SMU di tahun 2001. Menyoroti makna kemerdekaan dan penjajahan, Audrey memberikan perbandingan karakter bangsa yang sudah lama merdeka dengan bangsa Indonesia.

Audrey memecahkan rekor MURI pertamanya pada usia 10 tahun 11 bulan. Ia berhasil lulus ujian TOEFL Internasional dengan skor tertinggi, 573, di usia termuda. Kemudian, di usia 12 tahun, Audrey berhasil lulus ujian DELF (Diplome d’etudesen langue francaise-diploma bahasa Prancis) A1-A3, dengan skor tertinggi di usia termuda. Lalu saat usianya 14 tahun, ia memecahkan rekor TOEFL-nya sendiri dengan skor 670. Disusul tahun berikutnya dengan rekor tes SAT (scholastic Aptitude Test) I & II, yang merupakan syarat masuk perguruan-perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat. Untuk tes SAT II-nya, Audrey memilih lima mata pelajaran yang berbeda sebagai materi ujiannya: frence, Physic, Writing, Mathematics, dan World History.

Jika dilihat secara kasat mata, Audrey adalah seorang anak yang sangat berbakat, dengan kemampuan memecahkan berbagai rekor akademis yang tak pernah didengar sebelumnya. Karena itu, ayahnya tidak tinggal diam melihat anaknya meraih berbagai macam prestasi spektakuler. Ia tak segan-segan melayangkan surat elektronik ke Kementrian Pendidikan Singapura (MOE), memohon saran akan fasilitas pendidikan pendidikan yang terbaik untuk putrinya. MOE menjawab bahwa Singapura tidak memiliki fasilitas yang memadai saat itu untuk anak-anak berbakat seperti Audrey, dan menyarankan beliau untuk berkonsultasi dengan pakar pendidikan dari AS.

Para pakar inilah yang kemudian merujuk beliau ke program PEG (Program for the Exceptionally gifted) di Mary Baldwin College, Virginia, Amerika Serikat. Program ini memungkinkan gadis-gadis berbakat usia 13-16 tahun dari seluruh Amerika untuk memulai studi S1 mereka jauh lebih awal dari biasanya. Para mahasiswi PEG biasanya menimba ilmu di Mary Baldwin selama setahun sebelum di transfer ke Universitas lain yang lebih prestisius. Ini pula yang akan dilakukan oleh Maria Audrey Lukito, pelajar asing pertama yang diterima oleh program revolusiner tersebut.

Tidak ingin membuat anaknya kecewa, Budi Loekito tidak pernah pernah memberitahu Audrey bahwa semua rekor dan prestasi akademisnya telah dilayangkan ke komite penerimaan PEG. Hingga suatu sore, ia memanggil Audrey dan dengan santai berkata, “Drey, papa tahu kamu suka menulis esai dalam bahasa Inggris. Ini ada beberapa pertanyaan yang Papa temukan dari Internet. Kamu mau tidak menguraikan pendapatmu tentang topik-topik ini?”

Audrey melihat dengan sekilas pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud. Hmm, menarik sekali! Pikirnya. Menurut kamu, apakah yang salah dari sistem pendidikan zaman sekarang? Jika kamu bisa merubah satu hal besardalam hidupmu, apakah yang akan kamu ubah? Apakah cita-ita terbesarmu dalam hidup?

Padahal tanpa diketahuinya, pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bagian dari formuliraplikasi yang disyaratkan oleh PEG. Terkesan akan semua jawaban Audrey dan prestasi akademis serta ekrakurikulernya, komite penerimaan PEG mengundang Audrey dan orang tuanya untuk interview secara terpisah pada Desember 2001.

Banyak orang yang menyarankan agar mereka menuda jadwal keberangkatan mereka karena waktu itu baru 3 bulan setelah peristiwa 11 September.

Akan tetapi, tidak ada keraguan sedikitpun di hati mereka. Audrey yang haus akan ilmu pengetahuan yang selama ini ia merasa yang dinginkannya terbatas dinegerinya, dan akan kembali ke tanah airnya setelah cukup menuntut illmu untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan negerinya. Sedangkan sang ayah yang tentu saja punya rencana yang berbeda. Budi Loekito berharap anaknya akan kerasan di negeri orang dan melupakan cita-cita konyolnya.

 

  1. F.      MENJADI INDONESIA DI AMERIKA

Ketika tiba diVirginia, Audrey cepat belajar bahwa cuaca disini terlalu dingin di musim dingin dan terlalu panas di musim panas. Maria Audrey Lukito memulai hari-harinya seebagai mahasiswa pada Januari 2002, di semester musim semi. Semester pertama dilalui Audrey dengan mengambil kelas yang amat bervariasi: Business management, Fisika, Sastra Ibrani, Politik, bahasa Prancis, dan Pidato. Jika akhirnya dia memilih Fisika sebagai jurusannya, itu tidak lain karena ia sangat ingin mendalami berbagai macam fenomena alam.

“Indonesia itu seperti apa?” demikianlah selalu pertanyaan mereka. Saat Audrey menggunakan telepon umum di ruang tamu asrama untuk menghubungi orang tuanya, banyak temannya yang bergerombol ingin mendengarkan percakapan mereka dalam bahasa Indonesia. Tak jarang Audrey mendengar temannya berkomentar, “Bahasa Indonesia itu indah sekali! Suatu hari nanti aku pasti akan belajar.” Betapa bangganya Audrey menjadi orang Indonesia!

Saat liburan musim panas bergulir, Audrey memutuskan untuk mengambil kelas intensif bahasa Rusia di University of Virginia (Uva), sebuah universitas negeri top yang didirikan oleh Thomas Jefferson (presiden ketiga Amerika Serikat).

Mereka digembleng bahasa Rusia dari pagi hingga malam selama delapan minggu penuh, dengan hanya beristirahat di hari Sabtu dan Minggu.

Pada semester musim gugur 2002, Audrey mulai menata rencana kepindahannya dari Maty Baldwin Collage. Ia melayangkan surat lamarannya kelima universitas top di Amerika. Emory, UVA, dan WM (William & Mary).

The collage of William and Mary in Virginia adalah institut pendidikan tertua kedua di Amerika Serikat. Didirikan oleh Raja William dan Ratu Mary melalui Royal Charter pada 1693. Inilah pilihan Audrey.

Banyak hal yang tidak cocok dengan Audrey di AS, terutama budayanya. Keinginan Loe Seng Hoe agar anaknya melupakan Indonesia justru menjadi bumerang. Audrey justru semakin mencintaI Indonesia. Alasannya mudah saja. Ia adalah orang Indonesia satu-satunya di kampusnya, dan semua teman maupun dosennya bertanya mengenai Indonesia kepadanya. Karena ia tidak pernah benar-benar mengenal negaranya akibat orang tuanya selalu melindunginya dari realita brutal di tanah air, dan ia pun tidak mau mendengar berita buruk tentang Indonesia, maka ia menjawab hal-hal indah yang pernah dibacanya di buku-buku paket sekolah yang ia miliki.

“Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara. Alamnya subur dan kaya, cuacanya bersahabat, rakyatnya ramah. Kapan-kapan silahkan datang ke negara kami,” katanya. Bisa ditebak, mereka semua pun kagum akan negara eksotis yang bernama Indonesia, tempatnya berasal. Setiap kali ada perbedaan dari gaya bahasa maupun cara berfikir Audrey, teman-temannya selalu menganggap bahwa itu karena Audrey “berasal dari Indonesia”. Sungguh tidak disangka bahwa sepanjang hidunya ia akan diakui sebagai orang indonesia “asli” ketika ia berada ribuan kilometer dari tanah airnya.

 

  1. G.    ESAI FILSAFATI

Pada tahun pertama kuliah di negeri Paman Sam, Audrey harus menyesuaikan diri dengan kurikulum universitas di Amerika Serikat yang tidak membolehkan mahasiswanya memilih konsentrasi jurusan di tahun pertama. Maka, Audrey pun mengambil kelas Kitab Yahudi yang mempelajari Kitab Perjanjian Lama dari Injil berdasarkan sudut pandang sekuler (bukan kristen).

Di kelas itu, Audrey harus menulis esai perihal 10 pertanyaan kontroversial. Esainya memperoleh penilaian sangat baik oleh profesor pengajarnya. Bahkan, sang profesor membujuk Audrey untuk memilih jurusan filsafat atau religi. Menanggapi rekomendasi itu, Audrey yang masih malu-malu tidak tahu harus menjawab bagaimana. Ia hanya bisa mengatakan bahwa dirinya akan mempertimbangkan hal itu. di dalm hatinya, Audrey lebih tertantang untuk mendalami ilmu fisika dan ilmu politik pada saat itu.

 

 

  1. H.    ESAI KESENJANGAN GENDER

Berikutnya adalah ringkasan dari esai ilmu politik yang disusun oleh Audrey. Esai ini meraih nilai tertinggi meskipun ditulis oleh seorang remaja yang berusia 14 tahun dan tidak memiliki latar belakang sejarah ataupun politik Amerika. Padahal menulis esai awalnya sangat sulit baginya. Namun ia  pantang menyerah pada keyakinan pada saat itu, bahwa kelak suatu hari nanti pengetahuan yang dipelajarinya akan bermanfaaat bagi Indonesia tercinta.

Esai yang disusun audrey membahas topik seperti prilaku memilih. Esai yang berjudul “kesenjangan gender”, menganalisis bagaimana bedanya laki-laki dan perempuan dalam memilih secara nasional maupun negara bagian.

Berikut ini ringkasan esai Audrey tersebut:

Pendahuluan

Istilah “kesenjangan gender” pertama kali ditemukan tahun 1980 oleh pengumpul suara richard Wirthlin untuk mengambarkan perbedaan dalam prilaku pemberian suara antara pria dan wanita. Ketika hasil pemilu 1972 pertama kakli dicatat ada sekitar 6,7% perbedaan yang nyata antara pria dan wanita yang memberikan suara untuk calon dari partai Demokrat (dengan lebih banyak wanita daripada pria yang memilih McGovern). Perbedaan ini dapat dianggap “sepele’ hingga tahun 1980, saat pola yang sama muncul lagi (setelah menyusul hingga 1,8% pada tahun 1976) dan mencapai titik tertinggi pada tahun 1994 dengan 14,4% perbedaan. Sejak itu, para politikus elite dan mahasiswa sama-sama selalu berdebat mengenai strategi-strategiyang paling baik untuk menarik wanita pada pemilu, yang dari 53% pemilih, bisa sangat mempengaruhi hasil pemilu.

 

Hipotesis

Pertanyaan-pertanyaan penelitian yang akan dianalisis dalam esai ini adalah: dalm masalah yang mana terdapat kesenjangan gender? Bagaimana pria dan wanita bereaksi terhadap masalah tersebut, dan faktor apa yang dapat menjelaskannya?

Hipotesisnya adalah wanita pada dasarnya lebih mersa tidak aman dari pada pria, oleh karena itu mereka lebih suka campur tangan pemerintah daripada pria. Mereka cenderung lebih peduli pada masalah-masalah kesejahteraan dan perawatan kesehatan sementara pria lebih khawatir akan masalah pajak, belanja pemerintah, dan yang sejenisnya.

Wanita juga lebih tidak memperhatikan berita-berita akan kampanye di surat kabar dan kurang mempunyai ketepatan politik secara pribadi dibandingkan dengan pria. Wanita juga lebih cenderung menjadi pemilih yang sosiotropis (sociotropic voters) sementara pria lebih cenderung lebih ke pemilih dompet (pocketbook voters).

Mengenai “mengapa” hipotesisnya adalah: selain perbedaan-perbedaan alamiah yang dasar dalam hal prilaku yang membedakan pria dari wanita, pendidikan juga memainkan peran yang penting. Intinya terbuka untuk ada kejutan-kejutan.

 

Kesimpulan

Penelitian ini benar-benar suatu analisis yang lengkap dan dalam mengenai adanya kesenjangan gender dalam perilaku pemilih. Walaupun demikian temuan-temuan ini sepertinya mengusulkan bahwa kesenjangan gender disebabkan oleh paling sedikit empat faktor: perbedaan-perbedaan bawaan antara pri dan wanita, kesenjangan gender dalam pendidikan, wanita lebih tidak konsisten dalam hal ideologi dan identitas partai (mereka menjadi lebih liberal dan republiken ketika pendidikan mereka meningkat), dan yang terakhir, tradisi.

Dan mungkin tradisi menjadi faktor yang paling penting dibandingkan lainnya. Selama bertahun-tahun dan berabad-abad wanita dimana pun dianggap berbeda dengan pria, dan tradisi ini tidak dapat dihilangkan dalam beberapa dekade saja ini adalah tradisi yang menyebabkan kesenjangan selama 130 tahun dalam hall pemberian hak memilih antara pria dan wanita. Ini adalah tradisi yang menyebabkan wanita lajang hari in lebih tidak beruntung secara ekonomis daripada pria lajang. Ini adalah tradisi yang menyebabkan wanita memiliki kemanjuran politik yang lebih rendah daripada pria, mendapat penghasilan lebih rendah daripada pria, tidak peduli apa pendidikannya. Dan mungkin tradisi inilah juga yang menyebabkan kesenjangan dalam tingkat pendidikan antara pria dan wanita. Selama tradisi ini masih ada maka kesenjangan gender yang mistrius ini akan tetap meninggalkan jejaknya di jalur manusia.

Hipotesis yang telah dibahas di depan dalam esai ini adalah benar, jelas sekali data dalam tulisan ini akurat. Walaupun begitu, seperti disebutkan di muka, hipotesis initerbuka untuk kejutan-kejutan, dan memang ada beberapa kejutan yang mengagumkan.

 

  1. I.       DESERTASI AKHIR ANALISIS NEUTRINO

Dipenghujung masa mahasiswa tingkat I, audrey menentukan untuk mendalami ilmu fisika danmulai menghentikan menulis essay diluar topik fisika. Tulisan ini bertujuan melengkapi pemahaman atas kompleksitas aspirasi audrey pada saat itu, ia mempelajari banyak hal dan mencatat prestasi tinggi tanpa tahu apa yang ia ingin lakuakan dihidupnya.

Berikut ini adalah cuplikan dari skripsinya yang berjudul “Analisis Neutrino yang Dipancarkan Radioaktif Potassium dari inti Bumi.”

 

 

 

Pendahuluan

Penemuan neutrino terjadi pada tahun 1930, ketika ahli fisika menemukan masalah pada kerusakan nuklir beta (yaitu, proses dimana inti radioaktif diubah menjadi inti yang lebih sedikit ringan dengan emisi eletron, atau “sinar beta”)

Kami pertama-tama akan mempertimbangkan kasus dimana tidak terjadi osilasi dan menganalisa latar belakang yang mungkin, dan kemudian lanjut ke osilasi neutrino dan menghitung jumlah neutrino muon yang diharapkan dapat kami deteksi, lalu baru membahas hasilnya.

 

Kesimpulan

Prilaku neutron yang dihasilkan oleh 4019K pada inti bumi telah dianalisa, baik dalam kasus osilasi maupun dalam kasus nonosilasi. Kosentrasi dari 4019K pada inti belum diketahui maka analisa diatas selalu terpusat pada menjawab pertanyaan. “kira-kira apa konsentrasi pada saat hanya ada sedikit neutron yang dihasilkan yang secara praktis tidak terlihat?”

 

Maria Audrey Lukito mendapat ijazah S1-nya pada Desember 2004 saat usianya 16 tahun. Sesuai dengan tradisi almamaternya, ijazah Audrey ditulis dalam bahasa latin-bahasa tradisional orang-orang terpelajar di dunia Barat masa lampau. Tercantum gelarnya dalam tulisan klasik yang apik: Science Baccalaureum, Summa Cum Laude.

Pada tahun itu juga, ia telah dilatik menjadi anggota National Society of Collegiate Scholars (NSCS) dan Golden Key International Honour Society, keduanya perkumpulan kehormatan akademis yang ternama. Namun, yang paling membanggakan adalah saat ia dilantik menjadi anggota Phi Beta Kappa (ɸBK) atas nominasi dari Departemen Fisika William & Mary. Untuk dilantik menjadi anggota NSCS atau Golden Key cukup dengan memiliki IPK yang tinggi, tetapi untuk dilantik menjadi anggota ɸBK seorang mahasiswa harus dinominasikan oleh Depertemennya masing-masing. Fakta bahwa Depertemen Fisika Willianm & Mary mempercayainya untuk kehormatan tersebut sangatlah membanggakan hati Audrey.

Audrey tahu bahwa jika ia memutuskan untuk melanjutkan studinya di Amerika, masa depannya akan terjamin. Ia telah lulus ujian GRE (ujian syarat untuk calon mahasiswa S2 di Amerika serikat) setahun sebelumnya nilai yang hampir sempurna pula. Bahkan atas rekomendasi dari profesornya, Yale University pun telah mengulurkan tangan untuk menawarkan beasiswa padanya. Namun, Audrey tidak pernah bisa menghapuskan wajah anak-anak miskin yang ia lihat semasa kecil dari benaknya. Bukankah tujuannya menuntut ilmu setinggi ini adalah untuk membantu mereka, untuk membangun negerinya? Bagaimana mungkin hal itu bisa tercapai jika ia menerima tawaran dari Yale dan menjadi ahli fisika? Audrey tahu ubahwa takdirnya tidak terlletak disana. Maka, ia pun memutuskan untuk kembali ke tanah air dan membantu bangsanya menjadi negara yang jaya.

 

  1. J.      FATAMORGANA

Acap kali audrey ditanya , apa yang paling dirindukannya dari negara Amerika Serikat setelah kepulangannya? Jawaban audrey sungguh mencengangkan bagi kebanyakan pendengarnya. Ia tidak merindukan makanan Amerika, pemandangannya, ataupun orang-orangnya melainkan hal-hal yang mendasar yang ia kira dulu akan banyak ditemuinya di tanah airnya tetapi ternyata tidak, yaitu integritas.

Para dosen dan mahasiswa di Amerika serikat sangat menjunjung tiggi nilai integritas. Mereka sanagt bangga dan yakin akan kode kehormatan (honor code) mereka yang menyatakan bahwa tindakan curang seorang mahasiswa tidak hanya kan menyakiti dirninya sendiri, melainkan juga akan merusak rasa saling percaya dalam komunitas kampus.

Karena paham inilah, hampir semua mahasiswa di universitas yang berkualitas menganggap tindakan curang sebagai tindakan yang menjijikkan. Karena menjunjung tinggi kode kehormatan sebagian besar ujian di kampus berlagsung tanpa pengawasan. Bahkan tidak jarang ujian boleh dibawa pulang.

Apa yang membuat ara mahasiswa ini bersikap demikian terpuji? Selain martabat dan harga diri yang tinggi hal ini juga disebabkan oleh tingginya nilai wawasan dan pengetahuan. Berbeda dengan Indonesia dimana banyak sekali pelajar yang menuntut ilmu demi gelar., pangkat, dan harta. Dari fenomena yang menyedihkan inilah, negara kita sangat ahli mencetak manusia kaya gelar tetapi miskin wawasan dan integritas.

Dulu audrey selalu menganggap orang-orang indonesia yang rajin chek up ke singapura sebagaiii makhluk-makhluk pengecut. Tidakkah mereka percaya pada tim medis negeri sendiri. Namun sejak kepulangannya ke tanah air audrey melihat sendir satu persatu teamn dan keabat dekatnya meninggal akibat mala praktik dokter-dokter di Idnonesia. Mereka diperlakukan bagaikan barang pecobaan yang tidak ada harganya, rupanya dokter-dokter diluar negeri lebih menghargai rakyat kita daripada dokter-dokter di negara sendiri.

Kita harus mengajari anak-anak kita dari kecil bahwa wrilaku dan kebiasaan memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Misalnya, jika mereka mempunyai kebiasaan menyontek, membenci suatu kelompook tertentu tidak peduli lingkungan, merusak tubuh mereka dengan narkoba dan sifat tercela lainnya. Kita harus mengajari rakyat kita cara yang benar melam[pisakan letidakpuasan. Semua makhluk hidup memiliki keluhan dan ketidajk puasan. Tetapi yang mbedakan kita dari binatang adalh akal budi dan peradaban kita. Jika binatang hanya memilki insting alamiah, kita sebagai manusia yang beradab harus melatih diri untuk memilikietika moral, sopan santun dan tata tertib.

Terakhir sadarlah bahwa nasib negara kita ada ditangan kita masing-masing. Indonesaia memiliki banyak potensi untuk menjadi sebuah super power negara unik nan jaya yang disegani dan dipuja oleh seluruh dunia. Karena kita luas dan juga alan kita kaya, tinggal kita sendiri yang harus peduli akan nasib tanah air kita. Beranikah kita untuk mementingakan kepentingan negara diatas suku dan golongan. Semua jawaban ada di diri kita masing-masing.

 

RIAN AINUR ROFIQ

201210360311037