PATRIOT

RIAN AINUR ROFIQ

201210360311037

PATRIOT

 

  1. A.   KELUARGA LOE DAN AUDREY KECIL

Budi Loekito (Loe Seng Hoe) dlahirkan di Tulungagung, Jawa Timur, pada 24 Februari 1954. Sebagai anak ke-enam dari delapan bersaudara. Engkongnya Loe Sek Tic, adalah seorang imigran dari Xiamen profinsi Fujien RRC, yang datang ke Indonesia pada dekade ke-dua abad ke-20 untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Audrey kecil tidak pernah bermimpi jadi putri raja. Tidak lama kemudian engkongnya yang tercinta meninggal. Ini sangat mengejutkan semua orang karena ia tidak pernah sakit-sakitan. Beberapa bulan sebelum kepergiannya nenek dari Audrey ditabrak sepeda motor saat bersepeda ke alun-alun. Kebiasaan ini telah dilakukannya selama bertahun-tahun tanpa insiden sedikitpun. Dan setelah beberapa bulan dirawat dirumah sakit emak (nenek) terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma, saat dia sadar dari komanya ia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya telah meninggal dan ia sendiri divonis lumpuh seumur hidup.

Bagaimana mungkin ia bisa kehilangan dua orang yang ia cintai dalam waktu yang begitu singkat? Ia harus merelakan engkongnya pada alam maut dan emaknya pada suatu penyakit menahun yang telah merenggut seluruh kepribadiannya. Saat itulah Audrey kecil terobsesi menemukan makna hidupnya. “Jika hidup ini hanya sementara, maka harus ada makna, tujuan, arti, dan gunanya. Aku tidak mau mati dalam penyesalan”.

Dan pada suatu hari yang cerah saat usianya 5 tahun ia masih ingat kejadian pagi itu saat ia diantar oleh ayahnya ia  melihat dari kaca jendela mobil, seorang anak laki-laki seusianya sedang mendorong gerobak sampah di jalan. Kemudian ia bertanya kepada ayahnya “mungkinkah anak laki-laki tersebut sekolah?”  “Tidak ada biaya untuk sekolah dan hampir tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mereka tetapi hanya negara yang bisa melakukan itu,” begitulah jawaban dari sang ayah.

Sejak hari itu Audrey akan masuk ke pemerintahan dan membantu rekan-rekan senegaranya. Sayangnya, harapan Audrey sangat berbeda dengan harapan ayahnya yang berharap Audrey mampu bersekolah diluar negeri. Banyak orang yang mengamati kehidupan dan prestasinya, Audrey tidak menyangka bahwa ayahnyalah yang sangat berperan dalam menfasilitasi  pendidikannya. Ayah Audrey tanpaknya pendiam, giat bekerja dan tak banyak berambisi dan lebih  ke sifat patriotisme. Dan sifat patriotisme itulah yang sebenarnya ia warisi dari ayahnya. Audrey kecil masih sering berfikir sendiri alangkah indahnya jika orang-orang seperti ayahnya mampu berpatisipasi penuh dalam usaha pembangunan bangsa.

 

  1. B.   ZAMRUD KHATULISTIWA

Hari pertama masuk SD sangat berkesan. Ia masih ingat betapa bangga hatinya ia masuk kedalam kelas bersama 40 anak lainnya. Ruang kelas tersebut berbentuk seperti biasa dan terdapat garuda pancasila di atas papan tulis di apit oleh potret Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Tri Sutrisno. Persis di sebelah papan tulis Bendera Merah Putih.

Audrey berusaha untuk belajar segiat mungkin, pelajaran yang paling disukainya Bahasa Indonesia dan PPKN karena keduanya mengajarkan banyak hal tentang bangsa dan negara.

“Negara Indonesia disebut juga Zabrut Khatulistiwa. Sejak dulu Indonesia sudah diincar oleh bangsa-bangsa penjajah karena hasil buminya banyak. Dan setelah merdeka sudah menjadi milik rakyat. Dan Indonesia dapat membangun negara-negaranya secara maksimal di tangan orang-orang seperti Audrey. Karena itulah mereka harus giat belajar agar bangsa indonesia tidak dijajah lagi”.

Audrey sangat ingin menjadi anak pintar yang suatu hari bisa berguna bagi negaranya. Setelah ia belajar dengan amat giat ia berasumsi bahwa jadi anak pintar itu susah, demikian gumamnya dalam hati. Selalu bosan dikelas, selalu ingin lebih dari yang disediakan disekolah. Selalu dihardik guru-guru karena bertanya diluar konsep pelajaran. Selalu sendiri karena tidak “nyambung” dengan kebanyakan teman sebayanya. Mengapa aku dilahirkan pintar? Tapi jika aku tidak pintar, aku tidak bisa membantu mereka. Mereka disini adalah anak-anak jalanan, pengamen, dan anak-anak putus sekolah lainnya.

Yang harus selalu kita sadari adalah bahwa kemerdekaan kita tidak boleh diterlantarkan jangan sampai kita memiliki mentalitas “sudah merdeka ya sudah”. Sampai kini masih banyak penjajah terselubung yang tengah menguntit kita : perpecahan negara, kebodohan, dan sikap mudah diprofokasi. Hal ini memiliki potensi untuk melumpuhkan dan menghancurkan kita dari dalam. Sehingga “Indonesia Raya” akhirnya hanya menjadi suatu fartamorgana suatu hal yang jauh disana.

Sadarlah bahwa nasib negara kita ada ditangan kita masing-masing. Indonesia memiliki banyak potensi untuk menjadi super power. Tanah kita luas dan alam kita kaya tinggal kita sendiri yang harus peduli akan nasib tanah air kita sendiri.Beranikah kita mementingkan kepentingan negara diatas kepentingan suku dan golongan? Beranikah kita untuk benar-benar mencintai Indonesia bukan hanya di mulut tetapi juga didalam hati dan segala prilaku kita? Jika iya maka besar harapan kita untuk menjadi negara yang maju dan jaya. Jika iya maka pantaslah kita untuk menanti masa depan yang cerah.

 

  1. C.   TIDAK PUNYA NEGARA

Hari itu dimulai dengan pagi dan bersemangat karena ia akan menemani orang tuanya ikut pemilihan umum. Ada tiga partai yang boleh dipilih: Golkar, PDI, dan PPP. Saat pemilihan selesai dalam perjalanan pulang kerumah Audrey  tak henti-hentinya menginterograsi orang tuanya.

“Ma, tadi mama pilih partai apa?”

“Mama kan udah bilang daritadi pilihan seseorang itu rahasia”

“Aku gak akan bilang ke siapa-siapa, janji deh”

“papa tadi pilih golkar” kata ayahnya yang tiba-tiba menyela.

“Golkar partainya presiden Soeharto? Kenapa?”

“Papa pilih presiden Soeharto karena dia itu paling melindungi orang-orang Cina seperti kita. Walaupun kamu lahir dan besar di Indonesia nenek moyangmu semua berasal dari Cina. Kita ini sebetulnya tidak punya negara

“apa yang diajarkan disekolahanmu tidak benar. Nanti kalau kamu sudah besar papa akan kirim kamu keluar negeri. Kamu akan jauh lebih dihargai disana”.

Negaranya sama sekali tidak ambil pusing apakah ia hidup atau mati, pintar atau bodoh. Kenyataannya ia hanya sebutir pasir ditengah hamparan lautan manusia dibumi nusantara tak berdaya dan tak bermakna. Untuk pertama kali Audrey benar-benar takut akan masa depannya. Ia takut bahwa semua ilmu yang ditimbanya tidak akan pernah digunakan untuk mensejahterakan bangsanya, seperti yang diinginkannya sejak dulu.

Sampai saat ini Audrey takut berbicara dengan orang lain tentang cita-citanya. Dia todak mau ditertawakan, dimaki atau dikuliahi bahwa ia “tidak benar-benar mempunyai negara”. “kamu itu bukan orang Indonesia asli” begitu banyak orang menasehatinya. Sebaiknya kamu mencari cita-cita lain saja.

Dan yang paling menyakiti hati audrey adalah bahwa setiap orang yang memberi nasehat seperti itu selalu merasa telah “berjasa” mendidik dirinya-seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Lebih baik aku tidak cerita pada siapapun. Toh, tidak pernah ada yang mengerti. Semua isi hati dan impianku, ku simpan saja sendiri. Lebih baik aku berteman dengan buku-bukuku. Mereka tidak pernah mengata-ngataiku atau menertawakanku. bukankah kata guru-guru disekolahku bahwa buku adalah jendela dunia?

Demikianlah Audrey memutuskan untuk menjadikan buku-bukunya teman terdekatnya. Hanya mereka yang mengetahui impiannya , suka dukanya serta isi relung hati dan jiwanya. Sebab saat ia belajar ia merasa kuat tangguh dan berani. Tak ada hal yang tidak mungkin diraihnya, tidak ada masalah yang terlalu sulit untuknya. Sementara didunia nyata dia hanya seorang “anak kecil” yang naif. Seorang minoritas yang tak berdaya, kecil, dan lemah.

 

  1. D.    PERUBAHAN BESAR DALAM HIDUP

Semua itu berubah saat usianya beranjak sepuluh tahun. Saat itu di pertengahan Mei 1998 Indonesia sedang dilanda kekacauan politik dan sosial.

Untuk pertama kalinya Audrey melihat ayahnya takut. Ayah dan Ibunya sedang sibuk sendiri dikelilingi oleh tumpukan uang dan surat-surat yang bertebaran. Percakapan mereka terbata-bata.

“kita harus siapkan US dolar dan Rupiah”

“mau lari kemana?”

“ ke Bali saja lebih aman, takutnya kalau jalan ke bandara dihadang tentara”

“surat-surat?”

“ya. Ada kartu keluarga, akta nikah, dan akta lahir.”

“jangan lupa surat bukti kewarganegaraan”

“nanti ada biara di Bali semua sudah diatur. Sekarang tinggal jelaskan ke Audrey”

Orang tuanyapun bersiap-siap membohongi Audrey.

“Drey, kita akan berlibur ke Bali naik mobil. Nanti papa dan supir Oni yang gantian nyopir”

Apa mereka pikir dirinya bodoh? “aku tidak mau pergi, aku akan tinggal disini”.

Dan ayahnya pun menjawab dengan berang dan akhirnya Audrey pun menurut.

Mereka pulang dari Bali dua minggu kemudian. Tanpa ada celah sedikitpun walupun Budi Loekito telah menginstruksikan supir Oni untuk menerjang siapapun yang berani menghadang mereka. Tetapi syukurlah hal itu tidak terjadi.

Kerusuhan pada tahun 1998 yang lantas diikuti dengan runtuhnya orde baru praktis mengakhiri segala pikiran masa kecil, dan saat itu Audrey mulai belajar ekstra keras dengan harapan dapat berguna bagi bangsa dan negara.

Belajar dan hanya belajar yang ada dibenak Audrey. Lapar dan dahaga akan ilmu pengetahuan sudah menjadi bagian dari masa kecilnya. Sementara diluar dirinya, berbagai kekerasan di masyarakat semakin memperkuat ketidakberdayaan dirinya. Untuk melawan rasa ketidakberdayaan itu ia semakin meningkatkan semangat untuk belajar dan terus menerus menggali berbagai pengetahuan dari buku-buku.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa orang-orang yang ketakutan biasanya akan terobsesi terhadap sesuatu. Walaupun saat itu tidak disadarinya, tetapi jika dilihat kebelakang pada masa-masa inilah dia mulai terobsesi untuk belajar. Belajar adalah obat penenangnya, harapan satu-satunya bahwa suatu hari ia dapat melakukan suatu yang berguna. Ayahnya telah mengizinkan untuk membeli semua buku yang diinginkan melalui internet., dan fakta bahwa buku-buku tersebut semuanya ditulis dalam bahasa inggris-indonesia. “kalau aku bisa menghafalkan seluruh isi kamus ini, aku bisa masuk kedalam universitas luar negeri.

Ditengah seuruh waktunya yang dia curahkan untuk belajar dan membaca buku, Audrey masih bisa mengatur waktu luang. Pada saat seperti itulah dia bisa bersantai. Salah satu aktifitas di kala luang adalah mendengarkan musik klasik.

 

  1. E.    MEMECAHKAN REKOR

Essay berjudul “Les Grands Congquereurs (idolaku)” disusun saaat Audrey berumur 11 tahun dan duduk di kelas 1 SMP. Berisikan tentang kisah penakluk besar dalam sejarah Eropa, yaitu Napoleon Bonaporte (1769-1821) dan Duke of Wellington (1769-1852).

Tentang Napoleon Bonaporte, tokoh besar dari Prancis ini, Audrey menyusun dua bagian esai. Satu bagian hasil menulis sendiri dengan tulisan tangan , satu bagian lainnya berupa print out perjalanan hidup Napoleon bersumber dari Grolier Electronic Publishing tahun 1993.

Disamping esai tentang tokoh idolanya yang adalah pangima peperangan, Audrey juga menulis esai tentang untuk tugsa mata pelajaran sosiologi. Ia menyampaikan pandangan kritis tentang makna kemerdekaan.

Esai ini memberi gambaran pemikiran Audrey semasa duduk di bangku SMU di tahun 2001. Menyoroti makna kemerdekaan dan penjajahan, Audrey memberikan perbandingan karakter bangsa yang sudah lama merdeka dengan bangsa Indonesia.

Audrey memecahkan rekor MURI pertamanya pada usia 10 tahun 11 bulan. Ia berhasil lulus ujian TOEFL Internasional dengan skor tertinggi, 573, di usia termuda. Kemudian, di usia 12 tahun, Audrey berhasil lulus ujian DELF (Diplome d’etudesen langue francaise-diploma bahasa Prancis) A1-A3, dengan skor tertinggi di usia termuda. Lalu saat usianya 14 tahun, ia memecahkan rekor TOEFL-nya sendiri dengan skor 670. Disusul tahun berikutnya dengan rekor tes SAT (scholastic Aptitude Test) I & II, yang merupakan syarat masuk perguruan-perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat. Untuk tes SAT II-nya, Audrey memilih lima mata pelajaran yang berbeda sebagai materi ujiannya: frence, Physic, Writing, Mathematics, dan World History.

Jika dilihat secara kasat mata, Audrey adalah seorang anak yang sangat berbakat, dengan kemampuan memecahkan berbagai rekor akademis yang tak pernah didengar sebelumnya. Karena itu, ayahnya tidak tinggal diam melihat anaknya meraih berbagai macam prestasi spektakuler. Ia tak segan-segan melayangkan surat elektronik ke Kementrian Pendidikan Singapura (MOE), memohon saran akan fasilitas pendidikan pendidikan yang terbaik untuk putrinya. MOE menjawab bahwa Singapura tidak memiliki fasilitas yang memadai saat itu untuk anak-anak berbakat seperti Audrey, dan menyarankan beliau untuk berkonsultasi dengan pakar pendidikan dari AS.

Para pakar inilah yang kemudian merujuk beliau ke program PEG (Program for the Exceptionally gifted) di Mary Baldwin College, Virginia, Amerika Serikat. Program ini memungkinkan gadis-gadis berbakat usia 13-16 tahun dari seluruh Amerika untuk memulai studi S1 mereka jauh lebih awal dari biasanya. Para mahasiswi PEG biasanya menimba ilmu di Mary Baldwin selama setahun sebelum di transfer ke Universitas lain yang lebih prestisius. Ini pula yang akan dilakukan oleh Maria Audrey Lukito, pelajar asing pertama yang diterima oleh program revolusiner tersebut.

Tidak ingin membuat anaknya kecewa, Budi Loekito tidak pernah pernah memberitahu Audrey bahwa semua rekor dan prestasi akademisnya telah dilayangkan ke komite penerimaan PEG. Hingga suatu sore, ia memanggil Audrey dan dengan santai berkata, “Drey, papa tahu kamu suka menulis esai dalam bahasa Inggris. Ini ada beberapa pertanyaan yang Papa temukan dari Internet. Kamu mau tidak menguraikan pendapatmu tentang topik-topik ini?”

Audrey melihat dengan sekilas pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud. Hmm, menarik sekali! Pikirnya. Menurut kamu, apakah yang salah dari sistem pendidikan zaman sekarang? Jika kamu bisa merubah satu hal besardalam hidupmu, apakah yang akan kamu ubah? Apakah cita-ita terbesarmu dalam hidup?

Padahal tanpa diketahuinya, pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bagian dari formuliraplikasi yang disyaratkan oleh PEG. Terkesan akan semua jawaban Audrey dan prestasi akademis serta ekrakurikulernya, komite penerimaan PEG mengundang Audrey dan orang tuanya untuk interview secara terpisah pada Desember 2001.

Banyak orang yang menyarankan agar mereka menuda jadwal keberangkatan mereka karena waktu itu baru 3 bulan setelah peristiwa 11 September.

Akan tetapi, tidak ada keraguan sedikitpun di hati mereka. Audrey yang haus akan ilmu pengetahuan yang selama ini ia merasa yang dinginkannya terbatas dinegerinya, dan akan kembali ke tanah airnya setelah cukup menuntut illmu untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan negerinya. Sedangkan sang ayah yang tentu saja punya rencana yang berbeda. Budi Loekito berharap anaknya akan kerasan di negeri orang dan melupakan cita-cita konyolnya.

 

  1. F.      MENJADI INDONESIA DI AMERIKA

Ketika tiba diVirginia, Audrey cepat belajar bahwa cuaca disini terlalu dingin di musim dingin dan terlalu panas di musim panas. Maria Audrey Lukito memulai hari-harinya seebagai mahasiswa pada Januari 2002, di semester musim semi. Semester pertama dilalui Audrey dengan mengambil kelas yang amat bervariasi: Business management, Fisika, Sastra Ibrani, Politik, bahasa Prancis, dan Pidato. Jika akhirnya dia memilih Fisika sebagai jurusannya, itu tidak lain karena ia sangat ingin mendalami berbagai macam fenomena alam.

“Indonesia itu seperti apa?” demikianlah selalu pertanyaan mereka. Saat Audrey menggunakan telepon umum di ruang tamu asrama untuk menghubungi orang tuanya, banyak temannya yang bergerombol ingin mendengarkan percakapan mereka dalam bahasa Indonesia. Tak jarang Audrey mendengar temannya berkomentar, “Bahasa Indonesia itu indah sekali! Suatu hari nanti aku pasti akan belajar.” Betapa bangganya Audrey menjadi orang Indonesia!

Saat liburan musim panas bergulir, Audrey memutuskan untuk mengambil kelas intensif bahasa Rusia di University of Virginia (Uva), sebuah universitas negeri top yang didirikan oleh Thomas Jefferson (presiden ketiga Amerika Serikat).

Mereka digembleng bahasa Rusia dari pagi hingga malam selama delapan minggu penuh, dengan hanya beristirahat di hari Sabtu dan Minggu.

Pada semester musim gugur 2002, Audrey mulai menata rencana kepindahannya dari Maty Baldwin Collage. Ia melayangkan surat lamarannya kelima universitas top di Amerika. Emory, UVA, dan WM (William & Mary).

The collage of William and Mary in Virginia adalah institut pendidikan tertua kedua di Amerika Serikat. Didirikan oleh Raja William dan Ratu Mary melalui Royal Charter pada 1693. Inilah pilihan Audrey.

Banyak hal yang tidak cocok dengan Audrey di AS, terutama budayanya. Keinginan Loe Seng Hoe agar anaknya melupakan Indonesia justru menjadi bumerang. Audrey justru semakin mencintaI Indonesia. Alasannya mudah saja. Ia adalah orang Indonesia satu-satunya di kampusnya, dan semua teman maupun dosennya bertanya mengenai Indonesia kepadanya. Karena ia tidak pernah benar-benar mengenal negaranya akibat orang tuanya selalu melindunginya dari realita brutal di tanah air, dan ia pun tidak mau mendengar berita buruk tentang Indonesia, maka ia menjawab hal-hal indah yang pernah dibacanya di buku-buku paket sekolah yang ia miliki.

“Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara. Alamnya subur dan kaya, cuacanya bersahabat, rakyatnya ramah. Kapan-kapan silahkan datang ke negara kami,” katanya. Bisa ditebak, mereka semua pun kagum akan negara eksotis yang bernama Indonesia, tempatnya berasal. Setiap kali ada perbedaan dari gaya bahasa maupun cara berfikir Audrey, teman-temannya selalu menganggap bahwa itu karena Audrey “berasal dari Indonesia”. Sungguh tidak disangka bahwa sepanjang hidunya ia akan diakui sebagai orang indonesia “asli” ketika ia berada ribuan kilometer dari tanah airnya.

 

  1. G.    ESAI FILSAFATI

Pada tahun pertama kuliah di negeri Paman Sam, Audrey harus menyesuaikan diri dengan kurikulum universitas di Amerika Serikat yang tidak membolehkan mahasiswanya memilih konsentrasi jurusan di tahun pertama. Maka, Audrey pun mengambil kelas Kitab Yahudi yang mempelajari Kitab Perjanjian Lama dari Injil berdasarkan sudut pandang sekuler (bukan kristen).

Di kelas itu, Audrey harus menulis esai perihal 10 pertanyaan kontroversial. Esainya memperoleh penilaian sangat baik oleh profesor pengajarnya. Bahkan, sang profesor membujuk Audrey untuk memilih jurusan filsafat atau religi. Menanggapi rekomendasi itu, Audrey yang masih malu-malu tidak tahu harus menjawab bagaimana. Ia hanya bisa mengatakan bahwa dirinya akan mempertimbangkan hal itu. di dalm hatinya, Audrey lebih tertantang untuk mendalami ilmu fisika dan ilmu politik pada saat itu.

 

 

  1. H.    ESAI KESENJANGAN GENDER

Berikutnya adalah ringkasan dari esai ilmu politik yang disusun oleh Audrey. Esai ini meraih nilai tertinggi meskipun ditulis oleh seorang remaja yang berusia 14 tahun dan tidak memiliki latar belakang sejarah ataupun politik Amerika. Padahal menulis esai awalnya sangat sulit baginya. Namun ia  pantang menyerah pada keyakinan pada saat itu, bahwa kelak suatu hari nanti pengetahuan yang dipelajarinya akan bermanfaaat bagi Indonesia tercinta.

Esai yang disusun audrey membahas topik seperti prilaku memilih. Esai yang berjudul “kesenjangan gender”, menganalisis bagaimana bedanya laki-laki dan perempuan dalam memilih secara nasional maupun negara bagian.

Berikut ini ringkasan esai Audrey tersebut:

Pendahuluan

Istilah “kesenjangan gender” pertama kali ditemukan tahun 1980 oleh pengumpul suara richard Wirthlin untuk mengambarkan perbedaan dalam prilaku pemberian suara antara pria dan wanita. Ketika hasil pemilu 1972 pertama kakli dicatat ada sekitar 6,7% perbedaan yang nyata antara pria dan wanita yang memberikan suara untuk calon dari partai Demokrat (dengan lebih banyak wanita daripada pria yang memilih McGovern). Perbedaan ini dapat dianggap “sepele’ hingga tahun 1980, saat pola yang sama muncul lagi (setelah menyusul hingga 1,8% pada tahun 1976) dan mencapai titik tertinggi pada tahun 1994 dengan 14,4% perbedaan. Sejak itu, para politikus elite dan mahasiswa sama-sama selalu berdebat mengenai strategi-strategiyang paling baik untuk menarik wanita pada pemilu, yang dari 53% pemilih, bisa sangat mempengaruhi hasil pemilu.

 

Hipotesis

Pertanyaan-pertanyaan penelitian yang akan dianalisis dalam esai ini adalah: dalm masalah yang mana terdapat kesenjangan gender? Bagaimana pria dan wanita bereaksi terhadap masalah tersebut, dan faktor apa yang dapat menjelaskannya?

Hipotesisnya adalah wanita pada dasarnya lebih mersa tidak aman dari pada pria, oleh karena itu mereka lebih suka campur tangan pemerintah daripada pria. Mereka cenderung lebih peduli pada masalah-masalah kesejahteraan dan perawatan kesehatan sementara pria lebih khawatir akan masalah pajak, belanja pemerintah, dan yang sejenisnya.

Wanita juga lebih tidak memperhatikan berita-berita akan kampanye di surat kabar dan kurang mempunyai ketepatan politik secara pribadi dibandingkan dengan pria. Wanita juga lebih cenderung menjadi pemilih yang sosiotropis (sociotropic voters) sementara pria lebih cenderung lebih ke pemilih dompet (pocketbook voters).

Mengenai “mengapa” hipotesisnya adalah: selain perbedaan-perbedaan alamiah yang dasar dalam hal prilaku yang membedakan pria dari wanita, pendidikan juga memainkan peran yang penting. Intinya terbuka untuk ada kejutan-kejutan.

 

Kesimpulan

Penelitian ini benar-benar suatu analisis yang lengkap dan dalam mengenai adanya kesenjangan gender dalam perilaku pemilih. Walaupun demikian temuan-temuan ini sepertinya mengusulkan bahwa kesenjangan gender disebabkan oleh paling sedikit empat faktor: perbedaan-perbedaan bawaan antara pri dan wanita, kesenjangan gender dalam pendidikan, wanita lebih tidak konsisten dalam hal ideologi dan identitas partai (mereka menjadi lebih liberal dan republiken ketika pendidikan mereka meningkat), dan yang terakhir, tradisi.

Dan mungkin tradisi menjadi faktor yang paling penting dibandingkan lainnya. Selama bertahun-tahun dan berabad-abad wanita dimana pun dianggap berbeda dengan pria, dan tradisi ini tidak dapat dihilangkan dalam beberapa dekade saja ini adalah tradisi yang menyebabkan kesenjangan selama 130 tahun dalam hall pemberian hak memilih antara pria dan wanita. Ini adalah tradisi yang menyebabkan wanita lajang hari in lebih tidak beruntung secara ekonomis daripada pria lajang. Ini adalah tradisi yang menyebabkan wanita memiliki kemanjuran politik yang lebih rendah daripada pria, mendapat penghasilan lebih rendah daripada pria, tidak peduli apa pendidikannya. Dan mungkin tradisi inilah juga yang menyebabkan kesenjangan dalam tingkat pendidikan antara pria dan wanita. Selama tradisi ini masih ada maka kesenjangan gender yang mistrius ini akan tetap meninggalkan jejaknya di jalur manusia.

Hipotesis yang telah dibahas di depan dalam esai ini adalah benar, jelas sekali data dalam tulisan ini akurat. Walaupun begitu, seperti disebutkan di muka, hipotesis initerbuka untuk kejutan-kejutan, dan memang ada beberapa kejutan yang mengagumkan.

 

  1. I.       DESERTASI AKHIR ANALISIS NEUTRINO

Dipenghujung masa mahasiswa tingkat I, audrey menentukan untuk mendalami ilmu fisika danmulai menghentikan menulis essay diluar topik fisika. Tulisan ini bertujuan melengkapi pemahaman atas kompleksitas aspirasi audrey pada saat itu, ia mempelajari banyak hal dan mencatat prestasi tinggi tanpa tahu apa yang ia ingin lakuakan dihidupnya.

Berikut ini adalah cuplikan dari skripsinya yang berjudul “Analisis Neutrino yang Dipancarkan Radioaktif Potassium dari inti Bumi.”

 

 

 

Pendahuluan

Penemuan neutrino terjadi pada tahun 1930, ketika ahli fisika menemukan masalah pada kerusakan nuklir beta (yaitu, proses dimana inti radioaktif diubah menjadi inti yang lebih sedikit ringan dengan emisi eletron, atau “sinar beta”)

Kami pertama-tama akan mempertimbangkan kasus dimana tidak terjadi osilasi dan menganalisa latar belakang yang mungkin, dan kemudian lanjut ke osilasi neutrino dan menghitung jumlah neutrino muon yang diharapkan dapat kami deteksi, lalu baru membahas hasilnya.

 

Kesimpulan

Prilaku neutron yang dihasilkan oleh 4019K pada inti bumi telah dianalisa, baik dalam kasus osilasi maupun dalam kasus nonosilasi. Kosentrasi dari 4019K pada inti belum diketahui maka analisa diatas selalu terpusat pada menjawab pertanyaan. “kira-kira apa konsentrasi pada saat hanya ada sedikit neutron yang dihasilkan yang secara praktis tidak terlihat?”

 

Maria Audrey Lukito mendapat ijazah S1-nya pada Desember 2004 saat usianya 16 tahun. Sesuai dengan tradisi almamaternya, ijazah Audrey ditulis dalam bahasa latin-bahasa tradisional orang-orang terpelajar di dunia Barat masa lampau. Tercantum gelarnya dalam tulisan klasik yang apik: Science Baccalaureum, Summa Cum Laude.

Pada tahun itu juga, ia telah dilatik menjadi anggota National Society of Collegiate Scholars (NSCS) dan Golden Key International Honour Society, keduanya perkumpulan kehormatan akademis yang ternama. Namun, yang paling membanggakan adalah saat ia dilantik menjadi anggota Phi Beta Kappa (ɸBK) atas nominasi dari Departemen Fisika William & Mary. Untuk dilantik menjadi anggota NSCS atau Golden Key cukup dengan memiliki IPK yang tinggi, tetapi untuk dilantik menjadi anggota ɸBK seorang mahasiswa harus dinominasikan oleh Depertemennya masing-masing. Fakta bahwa Depertemen Fisika Willianm & Mary mempercayainya untuk kehormatan tersebut sangatlah membanggakan hati Audrey.

Audrey tahu bahwa jika ia memutuskan untuk melanjutkan studinya di Amerika, masa depannya akan terjamin. Ia telah lulus ujian GRE (ujian syarat untuk calon mahasiswa S2 di Amerika serikat) setahun sebelumnya nilai yang hampir sempurna pula. Bahkan atas rekomendasi dari profesornya, Yale University pun telah mengulurkan tangan untuk menawarkan beasiswa padanya. Namun, Audrey tidak pernah bisa menghapuskan wajah anak-anak miskin yang ia lihat semasa kecil dari benaknya. Bukankah tujuannya menuntut ilmu setinggi ini adalah untuk membantu mereka, untuk membangun negerinya? Bagaimana mungkin hal itu bisa tercapai jika ia menerima tawaran dari Yale dan menjadi ahli fisika? Audrey tahu ubahwa takdirnya tidak terlletak disana. Maka, ia pun memutuskan untuk kembali ke tanah air dan membantu bangsanya menjadi negara yang jaya.

 

  1. J.      FATAMORGANA

Acap kali audrey ditanya , apa yang paling dirindukannya dari negara Amerika Serikat setelah kepulangannya? Jawaban audrey sungguh mencengangkan bagi kebanyakan pendengarnya. Ia tidak merindukan makanan Amerika, pemandangannya, ataupun orang-orangnya melainkan hal-hal yang mendasar yang ia kira dulu akan banyak ditemuinya di tanah airnya tetapi ternyata tidak, yaitu integritas.

Para dosen dan mahasiswa di Amerika serikat sangat menjunjung tiggi nilai integritas. Mereka sanagt bangga dan yakin akan kode kehormatan (honor code) mereka yang menyatakan bahwa tindakan curang seorang mahasiswa tidak hanya kan menyakiti dirninya sendiri, melainkan juga akan merusak rasa saling percaya dalam komunitas kampus.

Karena paham inilah, hampir semua mahasiswa di universitas yang berkualitas menganggap tindakan curang sebagai tindakan yang menjijikkan. Karena menjunjung tinggi kode kehormatan sebagian besar ujian di kampus berlagsung tanpa pengawasan. Bahkan tidak jarang ujian boleh dibawa pulang.

Apa yang membuat ara mahasiswa ini bersikap demikian terpuji? Selain martabat dan harga diri yang tinggi hal ini juga disebabkan oleh tingginya nilai wawasan dan pengetahuan. Berbeda dengan Indonesia dimana banyak sekali pelajar yang menuntut ilmu demi gelar., pangkat, dan harta. Dari fenomena yang menyedihkan inilah, negara kita sangat ahli mencetak manusia kaya gelar tetapi miskin wawasan dan integritas.

Dulu audrey selalu menganggap orang-orang indonesia yang rajin chek up ke singapura sebagaiii makhluk-makhluk pengecut. Tidakkah mereka percaya pada tim medis negeri sendiri. Namun sejak kepulangannya ke tanah air audrey melihat sendir satu persatu teamn dan keabat dekatnya meninggal akibat mala praktik dokter-dokter di Idnonesia. Mereka diperlakukan bagaikan barang pecobaan yang tidak ada harganya, rupanya dokter-dokter diluar negeri lebih menghargai rakyat kita daripada dokter-dokter di negara sendiri.

Kita harus mengajari anak-anak kita dari kecil bahwa wrilaku dan kebiasaan memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Misalnya, jika mereka mempunyai kebiasaan menyontek, membenci suatu kelompook tertentu tidak peduli lingkungan, merusak tubuh mereka dengan narkoba dan sifat tercela lainnya. Kita harus mengajari rakyat kita cara yang benar melam[pisakan letidakpuasan. Semua makhluk hidup memiliki keluhan dan ketidajk puasan. Tetapi yang mbedakan kita dari binatang adalh akal budi dan peradaban kita. Jika binatang hanya memilki insting alamiah, kita sebagai manusia yang beradab harus melatih diri untuk memilikietika moral, sopan santun dan tata tertib.

Terakhir sadarlah bahwa nasib negara kita ada ditangan kita masing-masing. Indonesaia memiliki banyak potensi untuk menjadi sebuah super power negara unik nan jaya yang disegani dan dipuja oleh seluruh dunia. Karena kita luas dan juga alan kita kaya, tinggal kita sendiri yang harus peduli akan nasib tanah air kita. Beranikah kita untuk mementingakan kepentingan negara diatas suku dan golongan. Semua jawaban ada di diri kita masing-masing.

 

RIAN AINUR ROFIQ

201210360311037

PEREKONOMIAN INTERNASIONAL

SYSTEM DAN ORGANISASI EKONOMI INTERNASIONAL

Indonesia telah bergabung menjadi peserta dalam GATT SEJAK 24 Februari 1950 atau tiga tahun setelah di sepakatinya persetujuan umum tentang tarif dan perdagangan (GATT) pada tahun 1947. Sebagai tindak lanjut dari Bretton wood Conference dan setelah terbentuknya PBB, maka pada tahun 1948di Havana dibentuk pula ITO (International Trade Organization). Namun, Amerika menolak perjanjian ini di karenakan kepentingan Amerika dalam perdagangan internasional akan terbatasi, sehinnga lembaga ini tidak pernah efektif. Pada tanggal 30 oktober 1947, GATT telah di sahkan oleh beberapa negara, yakni Australia, Belgia, Brazil, Burma, Kanada, Ceylon, Chili, China, Kuba, Cekoslovakia, Perancis, India, Libanon, Lexamburg, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Pakistan, Rhodesia Selatan, Syiria, Afrika selatan, Inggris, Irlandia Utara, dan Amerika. Pada akhir dekade ini, GATT telah beranggotakan sebanyak 130 negara, walaupun GATT telah merupakan perjanjian yang melibatkan banyak negara, tetapi sekretariat GATTtidak pernah menjadikannya sebagai organisasi internasional.

Adapun maksud didirikannya GATT adalah untuk menerapkan prinsip-prinsip umum tentang liberalisasi perdagangan berdasarkan traktat multiratera ldengan melalui pengurangan tarif, menghapuskan kendala perdagangan, menghapuskan praktik perlakuan diskriminasi antarnegara dalam perdagangan internasional.

1. Klausula MFN(Most Favoured Nation)

Klausula ini merupakan isu sentral dari GATT yang menyatakan bahwa para pihak harus berdasarkan prinsip nondiskriminasi antara pihak dalam perdagangan internasional dengan meminta semua anggota GATT untuk memberikan konsesi serupa, tetapi GATT memberikan eksepsi yakni tidak untuk transaksi komersial yang tidak berupa produk (physical item), seperti transportasi, transfer paten, lisensi, dan hal-hal lain yang invisible, termasuk perpindahan modal. Dalam klausula MFN ada pengecualian lain, yakni terhadap barang-barang atau produk yang harus dilindungi dari persaingan asing, hal inipun di benarkan oleh provisi GATT, tetapi hanya dengan melalui pengenaan tarif, seperti tarif bea masuk terhadap produk luar negeri.
Klausula pengenaan tarif ini secara progresif dapat di kurangi dengan melalui negosiasi sampai pada level kepahaman bersama dan mutual commitment. Hal ini tidak bisa di aplikasikan pada zona perdagangan bebas, negara yang terbentuk custom union atau adanya tawaran kekhususan / keistimewaan terhadap negara berkembeng.

Selain hal di atas, GATT melarang menggunakan restriksi kuantitatif, misalnya kuota ekspor dan impor lisensi, pengontrolan pembayaran tentang transaksi produk sebagai dalih perlindungan. Masih ada exemption (kelonggaran) dalam hal kesulitan neraca pembayaran, merujuk artikel XIV, negara berkembang dapat menikmati fasilitas preferential treatment (pengkhususan perlakuan). Selain adanya klausula MFN, GATT mengharuskan anggotanya menghormati prinsip.
2. NTB (Nontariff Barrier)
Hambatan nontarif ini dapat berupa standar, kuota, anti produk asing serta kampanye untuk mencintai produk dalam negeri, yang dapat menghambat perdagangan antarnegara anggota.
3. Klausula “Angka Bea Terikat”
Setiap negara sepakat dalam menerima kewajiban-kewajiban GATT atas seperangkat angka/tingkat tarif majsimum yang spesifik yang tidak boleh di kenakan tanpa pembenaran khusus.

F. ORGANISASI PERDAGANGAN DUNIA (WTO)

Setelah tujuh tahun lebih perdebatan dan negosiasi, putaran uruguay tentang GATT akhirnya dapat di lengkapi pada tanggal 15 april 1994, dengan 111 negara dari 125 negara menadatangani final document.Persetujuan final WTO (World Trade Organization) di terima oleh 104 negara dan berlaku sejak tanggal 1 januari 1995 dan 81 anggota menunjukkan representasi dari  90% perdagangan internasional, termasuk triad power; Jepang, Amerika, dan Eropa. Satu instrumen hukum yang sangat berperan adalah DSU (Dispute Setlement Body) atau Lembaga Penyelesaian Sengketa antar anggota yang bertikai, sejauh menyangkut perdagangan internasional. Dengan melalui Undang-Undang nomor  7 Tahun 1994 tentang aksesi Agreement Estabilishing The World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia), maka Indonesia terikat oleh segala ketentuan yang di tuangkan dalam Marrakesh Agreement tersebut. Lantas apa saja ketentuan-ketentuan pokok dari persetujuan tersebut? Ada lima belas item atau agenda yang telah di sepakati dalam persetujuan tersebut.

Tariffs, non-tariffs measures, tropical products, natural resource based product, textiles and clothing, agriculture, GATT articles, multilateral trade negotiation agreement, subsidies and countervailing measures, dispute settlements, trade related aspects intellectual property rights including trade in conterfeit goods, trade related investment measures, functioning of the GATT system, safeguards and service (tarif, tindakan nontarif, produk-produk tropis, produk-produk yang berasal dari sumber daya alam, tekstil dan pakaian jadi, pertanian, pasal-pasal GATT, persetujuan pengaturan hasil perundingan multirateral, subsidi dan tindakan penyeimbang, penyelesaian sengketa, aspek-aspek dagang yang terkait dngan hak-hak atas kekayaan intelektual, termasuk perdagangan barang palsu, ketentuan investasi yang berkaitan dengan perdagangan, fungsionalisasi sistem GATT, tindakan pengamana, dan jasa).

1. Funngsi dan Struktur WTO
Dalam menjalankan program-programnya, WTO mempunyai fungsi sebagai beriut.
1) Mendukung pelaksanaan, administrasi, dan penyelenggaraan persetujuan yang telah di capai, untuk mewujudkan sasaran persetujuan-persetujuan tersebut.
2) Merupakan forum perundingan bagi negara anggota mengenai persetujuan-persetujuan yang telah di   capai, termasuk keputusan-keputusan yang di tentukan kemudian dalam pertemuan tingkat materi.

3) Mengadministrasikan pelaksanaaan ketentuan mengenai penyelesaian sengketa perdagangan.
4) Mengadministrasikan mekanisme tinjauan kebijakan di bidang perdagangan.
5) Menciptakan kerangka kerja sama internasional dengan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank           Dunia serta badan-badan lain yang terafiliasi.

2. Struktur organisasi

Organisasi perdagangan dunia di lengkapi dengan organ-organ, yang struktur organisasinya sepertiberikut.
1) Ministerial conference (konferensi tingkat menteri), yang merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi yang mengadakan pertemuan secara reguler setiap dua tahun sekali.
2) General Council (Dewan Umum) yang bertugas sebagai pelaksana harian, terdiri dari wakil para anggota. Mereka mengadakan pertemuan sesuai kebutuhan.
3) Council for Trade in Goods (Dewan Perdagangan Barang), yang bertugas memantau pelaksanaan persetujuan yang di capai di bidang perdagangan barang.
4) Council for Trade in Services (Dewan Perdagangan Jasa), yang bertugas mementau pelaksanaan                                                                           persetujuan yang di capai di bidang perdagangan jasa.
5) Council for Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (Dewan Perdagangan yang berkaitan dengan Aspek-Aspek Hak-Hak atas kekayaan intelektual.
6) Dispute settlementy Body (Badan Penyelesaian Sengketa perdagangan antar anggota.
G.BRETTON WOODS SYSTEM DAN ORGANISASI EKONOMI INTERNASIONAL

Pada akhir abad 19, sistem perdagangan internasional masih menggunakan standar emes untuk menentukan nilai transaksi perdagangan antar negara (gold standard and on the convertibility of national currencies). Dalam praktiknya, erdagangan bilateral menggunakan perjanjian yang di kenal dengan dengan FCN treaties on friendships, commerce and navigation. Sistem ini colapse dengan pecahnya perang dunia pertama dan terjadinya instabilitas dan proteksi mata uang selama periode antar perang dunia pertama dan perang dunia kedua (interwar period). Kemudian, Inggris dan Amerika memendang erlu menciptakan dan menumbuhkan transaksi ekonomi internasional dengan basis akses pasar bebas, dengan persyaratan yang sama untuk mengakses semua pasar secara internasional.

Pada tahun 1944 terselenggara Bretton Wood Conference, yang mempunyai tugas untuk menciptakan konsep ekonomi global (to create a global economic frame work) dan usaha-usaha untuk mengurangi tarif dan kendala-kendala lain dalam perdagangan internasional. ,ka lahirlah dua organisaso ekonomi internasional yang bernsms IMF (International Monetary Fund) dan IBRD (The International Bank for Reconstruction and Development) yang lebih populer dengan sebutan bank Dunia. Setelah itu, tidak lama kemudian lahir GATT pada tahun 1947.

Selain itu, ada beberapa lembaga ekonomi Internasional yang lahir setelah berdirinya PBB tahun 1945, di antaranya adalah Ecosoc (Economic And Social Council), UNCTAD (United Nations Conference On Trade and Development), FAO (Food and Agriculture Organization), UNDP (United IFAD (International Funds for Agriculture Development). Dari sekian lembaga internasional tersebut yang concern dengan masalah ekonomi, keuangan dan pembangunan, yakni IMF dan IBRD yang akan di jelaskan lebih lanjut.

1. International Monetary Funds (IMF)

Suatu pertanyaan timbul, apa sebenarnya perbedaan prinsipil antara Bank Dunia dengam IMF, selain sama-sama lembaga keuangan Internasional? Menurut John Matnard Keynes (UK) dan Harry Dexter (USA), dengan mendasarkan pada Aticle VI IMF Agreement, bahwa maksud yang esensial, yakni embentukan sistem moneter Internasional yang akan menuju pada suatu frame work yang dapat memfasilitasi pertukaran barang , servis (jasa), dan modal di antara negara-negara anggota untuk terciptanya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable economic growth).

Lebih jauh,menegaskan bahwa maksud pendirian IMF adalah untuk tujuan sebagai berikut:
(I)To facilitate the expansion and balanced growth of international trade, and to contribute there by to the promotion and maintenance of high level of employment and real income and to the developmentof the productive resources of all members as primary objectives of economic policy.
(II) To assist in the establishment of a multirateral system of payments in respect of curent transaction of foreign exchange restriction which hamper the growth of world trade.
Keanggotaan IMF pada tahun 1975 mencapai 179 negara, termasuk negara-negara bekas pecahan unisoviet ( comon wealth independent states). Hak dan kewajiban anggota di tentukan oleh kuota yang merefleksikan kemampuan ekonomi dan financial negara anggota tersebut. Organ inti dari IMF terdiri dari dewan gubernur di bantu oleh seorang wakil yang di calonkan oleh anggota. Selain dewan gubernur, juga ada dewan eksekutif yang terdiri dari 20 anggota, dengan ketentuan 5 anggota ditunjuk dan 15 anggota di pilih. Negara yang berhak menunjuk adalah 5 negara yang memiliki kuota 5 terbesar dari total kuota di IMF ialahh Inggris, Amerika, Perancis, Jerman dan Jepang.

2. Bank Dunia ( World Bank )

Bank dunia atau secara resmi mempunyai nama IBRD ( International Bank For Recontruction and Development ) adalah merupakan saudara kembar dari IMF yang lahir dari Bretton Wood Conference. Sebagai mana tercantum dalam pasal 1 ketentuan ter sebut, tugas world bank adalah:
a) Untuk membantu rekonstruksi dan pembangunan di wilayah negara anggota.
b) Untuk mempromosian investasi swasta asing dengan menjamin dan berpartisipasi dalam loan serta segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia investasi swasta.

c) Untuk mempromosikan program pinjaman jangka pinjam dalam perdagangan internasional, menyeleksi proyek-proyek yang urgent untuk di bantu yang akan berpengaruh terhadap investasi internasional. Sesungguhnya Bank Dunia ini bertujuan melakukan rekonstruksi setelah perang dunia kedua pecah.

Dalam operasionalnya, Bank Dunia di lengkapi dengan beberapa organ, seperti IFC (International Finance Corporation), IDA (International Development Association). Selain lembaga tersebut, world bank di dukung oleh lembaga penyelesaian sengketa internasional di bidang investasi, yakni The International Centre for Investment Dispute (ICSID) serta multirateral Investment Agency (MIGA).

Sourch by : http://id.wikipedia.org/wiki/perekonomian internasinal

Ilmu Pengetahuan

Mushroom Magic

How psilocybin, the active agent in magic mushrooms, is opening a window into human consciousness…

The story begins on the morning of October 3rd 1799. A poor man can be seen in the gloomy dawn light gathering field mushrooms in London’s Green Park. When he gets home, the mushrooms are cooked with flour, water and salt to provide a Psilocybe semilanceatamorning broth for him, his wife and their four children.

A few hours later Everard Brande, a doctor, is summoned to the household where the family are experiencing strange symptoms. The father has developed vertigo and disturbed vision; the rest of the family complain of poisoning and stomach cramps with their extremities becoming cold. Their pulses and breathing oscillate between frightening highs and lows. The family are overwhelmed with the fear of dying – all, that is, except eight year old Edward, who is “attacked with fits of immoderate laughter”.

Nowadays we can be fairly certain that the strange symptoms experienced by the family 200 years ago were the result of accidental consumption of Liberty Cap mushrooms. Or, to give them the name by which they are better know, “magic mushrooms” or “shrooms”.

These grow widely in the UK and continental Europe in the autumn. They carry the name “Liberty Cap” because of their resemblance to the Phrygian Cap, commonly seen as a symbol of liberty.

Magic mushrooms

Liberty Cap mushrooms (Psilocybe semilanceata) are part of the large family of up to 200 species of Basidiomycota mushroom that contain the psychedelic drug psilocybin. These mushrooms are found in many parts of the world, with the Psilocybe genus being the major type. Psilocybe have long been associated with ritual because of their ability to change human perception – the “psychedelic” effect. Evidence has been found in Algeria, Mexico and Spain for their use in religious ceremonies. The Aztecs called them teonanacatl (divine mushroom) and the mushrooms were reportedly served at the coronation of Moctezuma II in 1502. Use of Psilocybe by the Aztecs was suppressed following the Spanish conquest, but they continued to be used covertly by native Indians in this part of America.

Little was known about these ceremonies in the US and Europe until husband and wife team Gordon and Valentina Wasson travelled to Mushroom statuesMexico in the 1950s. Their aim was to understand the culture associated with the “divine mushroom” and they made several visits to Mexico at that time. In 1955, Gordon Wasson was one of the first westerners to participate in an indigenous mushroom ceremony. Wasson wrote an article for the popular magazine “Life” in 1957, describing the mushroom ceremony and the sensations he experienced. The French mycologist, Roger Heim, accompanied the Wassons on one visit and Heim identified the mushrooms as Psilocybe mexicana.

The next step was to identify the active chemical in the mushrooms, so samples were given to Albert Hofmann at Sandoz in Basel. Hofmann was already well known as the chemist who had first synthesised the related psychedelic drug LSD in 1938, and who later inadvertently experienced the effects of the drug himself. Hofmann made extracts of the Psilocybe and analysed the constituents for their psychological effects, often testing the extracts on himself. He showed that there were two principal active compounds in the mushrooms, psilocybin and psilocin; once ingested, psilocybin is rapidly converted to psilocin.

The effects of psilocybin and LSD

So what are the effects of psilocybin and psilocin on humans? Psilocybin has effects rather similar to the two other principal psychedelic drugs, mescaline and LSD, although there are differences in detail and in potency. Sol Snyder, in his book Drugs and the Brain, describes how he took LSD to document and understand its effects. This is an excellent description from a respected scientist; he reports changes in sensory perception, especially visual effects. Objects may seem distorted, change colour or even move. Confusion between sensory modalities (synaesthesia) may also occur. Sense of time and space are altered but it is the effect on the sense of self that is particularly striking. “Boundaries between self and non-self evaporate, giving rise to a serene sense of being at one with the universe.” He goes on to speculate: “The almost predictable transcendence of ego boundaries brought on by these drugs has caused scientists to consider that there might be a neural basis for the ego.” Others report heightened awareness, super-reality and mystical experiences after taking the drug. Many people have enjoyed the effects produced by these drugs, which sometimes offer insights not available in normal life. For others it is an unpleasant experience and a minority have injured or killed themselves as a result of disorientation caused by changed perception or loss of self. The experience may depend on the state of the individual and their environment when they take the drug (“set and setting”). More recently a five-component scale has been devised to provide a semi-quantitative measure of the effects of these drugs.

Mechanisms of action of psilocybin and LSD

So, how are these curious effects on human consciousness achieved by these drugs? In the case of psilocybin and LSD, it is thought that the drugs hijack some of the normal processes in the brain. Brain function depends on the release of chemicals termed neurotransmitters. These are detected by their binding to specialised proteins called receptors. One neurotransmitter that is important for regulating a host of functions in the brain and elsewhere is serotonin. This neurotransmitter regulates behaviour, mood, sleep, appetite and blood flow. Psilocybin and LSD both bind to and activate receptors for serotonin that are present throughout the nervous system, so it is not surprising that they have such broad impacts on beaviour and function.

To probe these effects more deeply, scientists have begun brain scanning individuals using the agent, but so far the results are unclear. One study found brain activation Ruby Slipperswhen psilocybin was administered to human volunteers, whereas another study reported reduced activity, so further work is required.

Therapeutic use of psilocybin

In the 1950s it was felt that drugs such as LSD and psilocybin held promise as therapeutic agents and they were used during psychotherapy to lower psychological defences and to facilitate emotional insight. In the 1960s the effects of psilocybin were studied by the Harvard Professor Timothy Leary, who became notorious for his work on psychedelics. Leary’s eventual dismissal from Harvard fuelled the growing view at the time that use of these drugs was a form of cultural rebellion. The drugs were increasingly discussed by the media in terms of their potential for abuse and there were moves by the authorities to ban the drugs. Now, LSD, psilocybin and mescaline are controlled drugs in most countries. Somewhat anomalously, the Psilocybe mushrooms were not initially controlled and even in the early years of the 21st century there were shops freely selling “shrooms” in London. In 2005 the law in the UK was changed and the mushrooms were included in the ban, but as with other controlled drugs nowadays, it is still possible to buy the mushrooms via internet suppliers.

When the drugs became illegal this inhibited research on their therapeutic uses almost completely. Recently there has been a resurgence of interest and several careful studies have been performed on the effects of psilocybin on humans.

Franz Vollenweider and colleagues in Zurich have carefully examined the effects of psilocybin on humans, cataloguing the psychological effects using standard rating scales. Based on their observations, they concluded that, although there is a small risk of a bad reaction to psilocybin, which could include dysphoria, anxiety or panic, the administration of moderate doses of the drug to healthy, high-functioning and well-prepared subjects is associated with acceptable levels of risk providing it is done in a carefully monitored research environment. They did state, however, that this did not apply to recreational or less-controlled studies.

Roland Griffiths and colleagues at Johns Hopkins in the US have also examined the effects of psilocybin with a focus on spirituality. They administered psilocybin under controlled conditions to a group of human volunteers who regularly participated in religious or spiritual ceremonies. The acute perceptual and subjective effects of the drug included a complete mystical experience for 61% of those tested and/or extreme fear and anxiety in 39% of those tested. One month after testing, about two thirds of the participants rated the experience as having substantial personal and spiritual significance leading to positive change in attitude, mood and behaviour. 14 months later, these feelings were undiminished. These are fascinating observations, suggesting that psilocybin has considerable potential for changing human behaviour.

Sumber :http://www.thenakedscientists.com/HTML/articles/article/mushroom-magic/

Pendidikan

Pendidikan Islam Anak Usia 7 Tahun

pendidikan islam anak usia 7 tahunCara memberi Pendidikan Anak Usia 7 Tahun secara Islami
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin SISWA MTS & MA
Pondok Pesantren Alkhoirot, Karangsuko Malang

Imam Al Ghazali dalam bukunya Ayyuhal Awlad mengatakan anak adalah amanah Allah bagi orang tuanya. Seorang anak hendaknya ditanamkan pendidikan Islam sejak masa-masa awal kehidupannya dan diajarkan makna agama yang lebih luas secara gradual. Bagaimana mendidik anak usia 7 tahun?

Dari segi emosi sosial, usia tujuh tahun bagi seorang anak adalah ibarat sebuah permulaan menuju karakter yang baik seperti ramah, simpatik, hangat dan mudah bekerja sama. Ia juga memiliki sikap empati atau tidak egois pada yang lain. Itu disebabkan karena ia memiliki kontrol diri dan stabilitas yang lebih kuat dibanding sebelumnya.

Sikap yang buruk pada tahun lalu seperti berbohong, menipu dan mencuri berkurang secara drastis. Namun, kalau perilaku buruk ini tetap terjadi, orang tua harus mengambil langkah tegas agar anak mengerti bahwa ia salah. Baik salah menurut etika sosial, maupun dari sudut pandang agama Islam. Konsekuensi dari berbohong, menipu dan mencuri dapat berupa nasihat, dihapusnya fasilitas (untuk sementara), dan mengembalikan barang yang dicuri. Dengan demikian, hukuman harus berbeda sesuai level kesalahan. Dan pastikan orang tua konsisten dengan itu.

Jangan lupa, hukuman disiplin hendaknya disertai dengan diskusi tentang bagaimana supaya anak dapat berperilaku lebih baik di lain waktu. Ini penting, karena pada usia ini anak sudah dapat mencerna alasan dan logika yang benar asal disampaikan dengan cara yang sederhana.

Dalam segi kepercayaan diri (self-esteem), anak usia 7 tahun cukup labil. Oleh karena itu, sering-seringlah memberi motivasi dan masukan positif. Termasuk membantunya menghentikan kecenderungan menyalahkan diri sendiri (self-critical) dengan penekanan bahwa yang terpenting adalah apa yang sudah dipelajari, bukan hasil akhir. Sekali-kali, anak hendaknya mendapat kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri.

Dengan kemampuannya untuk mencerna suatu instruksi secara rasional, maka orang tua dianjurkan untuk memulai aktifitas yang dapat menstimulasi nalar berfikirnya. Misalnya, mengajak berdiskusi tentang nilai benar dan salah, baik dan buruk. Juga perbedaan antara kebenaran menurut etika sosial dan secara agama. Misalnya, nilai benar dan salah dalam etika sosial adalah berdasarkan kesepakatan manusia. Sedang nilai benar dan salah secara Islam adalah berdasar wahyu Al Quran dan Sabda atau Hadits Nabi.

Menstimulasi daya nalarnya juga dapat dilakukan dengan cara memberi pertanyaan yang mengundang anak untuk berfikir, memberi teka-teki dan bermain game yang membutuhkan pikiran. Kesabaran juga diperlukan orang tua atas sikap anak yang agak labil dan suka emosi.

Kewajiban Agama
Rukun Islam yang lima sudah perlu diperkenalkan secara lebih rinci dibanding sebelumnya. Terutama terkait kewajiban melaksanakan shalat lima waktu. Walaupun secara syari’ah, anak usia 7 tahun belum wajib melaksanakan salat, akan tetapi, pembiasaan sudah harus dimulai dari usia ini. sebagaimana tersurat dari sabda Nabi: “Perintahkanlah anak-anakmu sekalian shalat saat usia mereka tujuh tahun.” (Hadits Riwayat Abu Daud).

Taat dan hormat pada kedua orang tua (QS Luqman 31:14) merupakan salah satu nilai agama yang hendaknya menjadi etika prioritas kedua—setelah taat pada Allah– untuk ditanamkan pada anak sejak dini. Karena ia memainkan peran penting atas sukses tidaknya orang tua mendidik anak. Nilai sebaik apapun yang diajarkan akan percuma jika anak tidak mentaati orang yang mendidiknya.

Pada waktu yang sama orang tua hendaknya menjadi contoh hidup atau tauladan (uswah hasanah) dari segala ucapan, nasihat dan segala hal baik yang diajarkan pada anaknya (QS Al Ahzab 33:21). Karena tidak ada ajaran perilaku yang paling efektif dan efisien kecuali apabila apa yang dikatakan pendidik sama dengan apa yang dilakukannya. Orang tua jangan pernah mengajarkan suatu kebaikan, kalau tidak dapat memberi contoh dengan tindakan nyata.[]

sumber : http://afatih.wordpress.com/2010/06/04/pendidikan-islam-anak-usia-7-tahun/

universitas Muhammadiyah Malang

umm

DR. Arif Budi Wurianto

Kebudayaan ibarat sebuah tenda yang menaungi berbagai aspek kehidupan manusia. Semakin tinggi dan luas tenda, semakin sehat aspek-aspek kehidupan yang berada di bawahnya, karena terbuka ruang lapang untuk mudah bergerak. Sebaliknya semakin sempit dan rendah tenda yang menaungi membuat berbagai aspek yang dalam naungannya semakin sempit, pengap dan tidak ada ruang gerak. Hal ini berlaku untuk semua aspek kebudayaan seperti sistem kepercayaan dan religiusitas, kesenian, bahasa, organisasi sosial politik, sistem pengetahuan, teknologi, ekonomi dan matapencaharian, dan pendidikan.

Bronislaw Malinowski mengajukan unsur pokok kebudayaan yang meliputi (a) sistem normatif yaitu sistem norma-norma yang memungkinkan kerjasama antara para anggota masyatakat agar dapat menguasai alam di sekelilingnya, (b) organisasi ekonomi, (c) mechanism and agencies of education yaitu alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas untuk pendidikan dan keluarga merupakan lembaga pendidikan yang utama, (d) organisasi kekuatan ( the organization of force ). Bronislaw Malinowski sebagai penganut teori fungsional selalu mencari fungsi atau kegunaan setiap unsur kebudayaan untuk keperluan masyarakat

Dalam sebuah tatanan masyarakat sangat diperlukan sebuah harmonisasi struktur, baik struktur norma maupun struktur lembaga. Dua hal yang menjadi kata kunci adalah faktor suprastruktur dan infrastruktur. Dalam perspektif budaya, kedua faktor ini memiliki relevansi dengan pemaknaan manusia atas karyanya, bahwa manusia mengkonstruksi kebudayaan. Sebagaimana dikemukakan oleh Benjamin Akzin,1964 (dalam Attamimi, 1991) dalam struktur norma yang termasuk suprastruktur adalah norma hukum publik, sedangkan yang infrastruktur meliputi norma hukum keperdataan dan hukum perikatan. Sementara itu dalam struktur lembaga, suprastruktur meliputi pejabat negara dan pemerintahan dan rakyat sebagai infrastruktur.

Modernisasi , Pembangunan dan Disharmonitas

Dalam perkembangan masyarakat, masyarakat dunia terutama dunia ketiga pada dekade 70′an dilanda sebuah sistem pembangunan yang dikenal dengan modernisasi. Modernisasi adalah rasionalisasi dalam pertumbuhan ekonomi secara makro. Secarateoritik modernisasi merupakan sebuah teori yang di dalamnya terdapat beberapa aliran. Ada lima varian teori Modernisasi sebagaimana dikemukakan oleh Arief Budiman (1995:37-38) yaitu (1) teori Harrod-Domar, yang menekankan bahwa pembangunan hanya merupakan masalah penyediaan modal untuk investasi dan teori ini banyak dikembangkan oleh para ekonom, (2) teori McClelland yang menekankan pada aspek-aspek psikologi individu yaitu melalui pendidikan individual kepada anak-anak di lingkungan keluarga, Pembangunan akan terlaksana apabila terdapat jumlah wiraswasta yang banyak. (3) teori Weber yang menekankan pada nilai-nilai budaya. Nilai-nilai dalam masyarakat antara lain melalui agama mempunyai peran yang menentukan dalam mempengaruhi tingkah laku individu. Apabila nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dapat diarahkan kepada sikap yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi, proses pembangunan dalam masyarakat dapat terlaksana, (4) Teori Rostow, yang menekankan pada adanya lembaga-lembaga sosial dan politik yang mendukung proses pembangunan. Lembaga-lembaga politik dan sosial diperlukan untuk menghimpun modal yang besar serta memasok tenaga teknis, tenaga wiraswasta dan teknologi, dan (5) teori Inkeles dan Smith yang menekankan lingkungan material, dalam hal ini lingkungan pekerjaan, sebagai salah satu cara terbaik untuk membentuk manusia modern yang dapat membangun. Teori ini dapat dilakukan dengan pemberian pengalaman kerja secara langsung. Pendidikan merupakan cara yang paling efektif untuk membentuk manusia modern.

Penggunaan istilah modern selalu dipertentangkan dengan tradisional. Modern merupakan simbol kemajuan, pemikiran rasional, cara kerja efisien dan merupakan ciri masyarakat maju. Sebaliknya masyarakat tradisional merupakan masyarakat yang belum maju dengan ditandai cara berpikir irasional serta cara kerja yang tidak efisien. Menurur teori modernisasi, faktor-faktor non material sebagai penyebab kemiskinan khususnya dunia ide atau alam pikiran. Durkheim berpendapat bahwa modernisasi menyebabkan runtuhnya nilai-nllai tradisi.

Indonesia selama beberapa dekade pembangunan, terutama pada masa pemerintahan Orde Baru (1967-1998) menempatkan teori modernisasi dalam upaya pembangunan. Seperti yang telah diuraikan pada bagian terdahulu bahwa teori modernisasi yang terutama menekankan faktor manusia dan nilai-nilai budayanya sebagai pokok persoalan dalam pembangunan. Pelaksanaan teori ini sudah tentu membawa dampak, baik positif maupun negatif dan berpengaruh terhadap hubungan sinergitas antara suprastruktur dan infrastruktur. Sebagaimana telah diketahui bahwa barometer keberhasilan sebuah pembangunan adalah dikotomi antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan di sisi lain adanya pembangunan yang berkesinambungan yang berciri tidak terjadinya kerusakan sosial dan tidak terjadinya kerusakan alam. Dalam kenyataan pembangunan yang telah dikembangkan di Indonesia selama tiga dekade sebelum reformasi, ternyata pada beberapa segi memunculkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi meskipun dengan tidak adanya keadilan sosial, dan di sisi lain terjadi kerusakan sosial dan terjadinya kerusakan alam seperti hilangnya hutan adat dan hutan rakyat yang telah digantikan sistem pengelolaan hutan secara konglomerasi. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gangguan sosial dan konflik-konflik sebagai dasar ketidakadilan dan ketidak harmonisan antara suprastruktur dan infrastruktur.

Surna T. Djajadiningrat (1995:123) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan memerlukan perspektif jangka panjang. Lebih lanjut secara ideal keberlanjutan pembangunan membutuhkan pencapaian keberlanjutan dalam hal (1) ekologis, (2) ekonomi, (3) sosial budaya, (4) politik, dan (5) keberlanjutan pertahanan dan keamanan. Keberlanjutan ekologis merupakan prasyarat pembangunan demi keberlanjutan kehidupan karena akan menjamin keberlanjutan eksistensi bumi. Dikaitkan dengan kearifan budaya, masing-masing suku di Indonesia memiliki konsep yang secara tradisional dapat menjamin keberlangsungan ekologis, misalnya sistem Subak di Bali atau pemaknaan hutan bagi suku Dayak di pedalaman Kalimantan dan beberapa suku lain yang memiliki filosofi harmonisasi dengan alam. Keberlanjutan ekonomi yang terdiri atas keberlanjutan ekonomi makro dan keberlanjutan ekonomi sektoral merupakan salah satu aspek keberlanjutan ekonomi dalam perspektif pembangunan. Dalam keberlanjutan ekonomi makro tiga elemen yang diperlukan adalah efisiensi ekonomi, kesejahteraan ekonomi yang berkesinambungan dan peningkatan pemerataan dan distribusi kemakmuran. Hal ini akan dapat tercapai melalui kebijaksaaan ekonomi makro yang tepat guna dalam proses struktural yang menyertakan disiplin fiskal dan moneter. Sementara itu keberlanjutan ekonomi sektoral yang merupakan keberlanjutan ekonomi makro akan diwujudkan dalam bentuk kebijaksanaan sektoral yang spesifik. Kegiatan ekonomi sektoral ini dalam bentuknya yang spesiifk akan mendasarkan pada perhatian terhadap sumber daya alam yang bernilai ekonomis sebagai kapital. Selain itu koreksi terhadap harga barang dan jasa, dan pemanfaatan sumber daya lingkungan yang merupakan biosfer keseluruhan sumber daya.

Dalam hal keberlanjutan sosial dan budaya, secara menyeluruh keberlanjutan sosial dinyatakan dalam keadilan sosial. Hal-hal yang merupakan perhatian utama adalah stabilitas penduduk, pemenuhan kebutuhan dasar manusia, pertahanan keanekaragaman budaya dan partisipasi masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan. Di bidang keberlanjutan politik terdapat pokok pikiran seperti perhatian terhadap HAM, kebebasan individu, hak-hak sosial,politik dan ekonomi, demokratisasi serta kepastian ekologis. Sedangkan keberlanjutan di bidang pertahanan dan keamanan adalah keberlanjutan kemampuan dalam menghadapi dan mengatasi tantangan, ancaman dan gangguan. Persoalan berikutnya adalah harmonisasi antar struktur (suprastruktur dan infrastruktur) dalam menghadapi atau melaksanakan idealisasi pembangunan yang berkelanjutan. Apabila selama ini terjadi ketimpangan, maka yang terjadi adalah disharmonisasi yang berdampak pada hal yang lebih luas yaitu yang menyangkut nasionalisme, rasa kebangsaan dan “pudarnya negara bangsa”.

Disharmonitas dan “Pudarnya Negara Bangsa”

Berkaitan dengan pudarnya “negara bangsa” sebagai konsekuensi disharmoni supra-struktur dengan infrastruktur dalam pem-bangunan, keadilan dan kesejahteraan rakyat, Robertus Wijanarko (Kompas 5 Maret 2003) yang mendasarkan konsepsinya atas pandangan Benedict Anderson menyatakan bahwa pada masa lalu terbentuknya negara bangsa atau nation disebabkan oleh sebuah produk yaitu strategi sosial- budaya- politik guna menghadapi penjajah. Namun pada masa kini negara bangsa yang merupakan “nation character building ” itu berada dalam kepudaran sebagai akibat produk suatu deformasi stratego sosial-budaya-politik yang terwujud dalam tindakan dan keputusan sosial politik dari pihak-pihak yang memiliki akses ke kebijakan publik, kekuasaan dan pengaruh. Lebih lanjut dikatakan keluhan tentang merosotnya semangat nasionalisme disebabkan kendornya ikatan sosial dan rasa solidaritas yang tercermin dalam tindakan menindas, menguras, dan memanipulasi untuk kelanggengan status sosial.

Dengan demikian bagaimanakah peran kebudayaan sebagai motor penggerak harmonisasi yang dapat menjembatani antara das sein dan das sollen pembangunan dan masyarakat plural. Dengan meminjam istilah Soetandyo Wignyosubroto (1995:161) bahwa pembangunan harus diimbangi dengan bea psikologik dan bea kultural ( the psychological costs and the cultural costs) . Selama ini pembangunan dilakukan tanpa memperhatikan nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku sebagai kekayaan budaya masyarakat. Disharmoni pembangunan dan disrelasi antara supra dan infra struktur terjadi karena perubahan ke arah ekonomi dalam sudut pandang kepentingan nasional maupun lokal telah ditebus dengan cultural cost yang tinggi. Industrialisasi dan perubahan situasi lokal telah mengubah kearifan lokal. Beberapa kasus telah menunjukkan bahwa perubahan di dunia ekonomi mengakibatkan konflik yang dapat mengancam terjadinya disorganisasi dalam sistem sosial dan sistem budaya. Harmonisasi dapat dibentuk jika kebijakan-kebijakan politik yang menggerakkan seluruh proses pembangunan dan industrialisasi tidak hanya mempertimbangkan kepentingan-kepentingan ekonomi yang pragmatik dan jangka pendek, tetapi kebijakan politik juga harus memperhatikan nilai-nilai dan kaidah-kaidah dasar budaya lokal sebagai bentuk penghargaan pluralistik, untuk selanjutnya mengakomo-dasikannya ke tuntutan perubahan yang terjadi.

Penutup

Betapa perlunya dipikirkan/ditinjau kembali fungsi-fungsi kebudayaan dalam perspektif pembangunan, apakah sebagai penghambat atau pengendali proses pembangunan. Budaya dan seluruh kompleksitasnya pada hakikatnya harus ditempatkan kembali dalam fungsinya atau difungsikan sebagai pengawas dan pengontrol pembangunan yang sudah semakin berorienasi pada motif-motif ekonomi. Kearifan lokal dalam bentuknya yang berupa kompleksitas budaya merupakan penyangga sekaligus penghubung antara supra dan infra struktur. Talcot Pason menyatakan bahwa kebudayaan pada dasarnya sebagai pengontrol sistem kehidupan demi terselenggaranya “pattern maintenance ” . Hal ini pada dasarnya sebagai pembentuk nilai harmonisasi. Dalam harmonisasi terdapat keseimbangan yang bersifat sintagmatik yaitu antara perumusan konsep sosial budaya beserta nilai-nilainya, penataan sosial dan budaya yang baru beserta nilai-nilainya sehingga diperoleh sebuah keteraturan sosial. Hal ini secara sintagmatik dapat dipadankan dengan pertumbuhan ekonomi yang berpijak pada perumusan konsep baru sains dan teknologi sehingga melahirkan inovasi sains dan teknologi sehingga terjadi peningkatan produksi. Antara keteraturan sosial dan peningkatan produksi dapat diperoleh kesejahteraan sosial.

sumber:;http://yantiwijaya.student.umm.ac.id/2010/02/09/konstruksi-ketidakseimbangan-pembangunan-dalam-telaah-harmonisasi-suprastuktur-dan-infrastruktur-kebudayaan/#more-3